Ganto.co - Delapan nelayan di Kampung Muara Gantiang, Parupuk Tabiang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) kembali melabuhkan kapal kayu mereka ke bibir pantai setelah seharian melaut, Senin (29/12/2025) sore. Aktivitas ini baru kembali dilakukan setelah hampir dua bulan terhenti akibat cuaca ekstrem serta tumpukan kayu gelondongan sisa banjir bandang dari hulu yang terhampar di sepanjang pesisir pantai.
Doni (38), salah seorang nelayan setempat, mengatakan dirinya baru sekitar sepekan terakhir kembali melaut.
Sebelumnya, nelayan tidak berani turun ke laut karena cuaca buruk dan banyaknya kayu yang bertebaran di perairan maupun di tepi pantai.
"Hari ini nelayan melaut dari pagi sampai sore, tapi hasilnya sedikit," kata Doni saat ditemui Ganto di sebuah warung, Senin sore.
Menurut Doni, hasil tangkapan hari itu diperkirakan hanya sekitar Rp2 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli bahan bakar kapal, sementara masing-masing nelayan hanya memperoleh sekitar Rp50.000.
Pendapatan nelayan, kata Doni, sangat tidak menentu. Ia mengibaratkan rezeki di laut seperti "rezeki harimau".
"Kalau lagi bagus, pagi melaut siang sudah pulang. Tapi sering juga dari pagi sampai sore tidak dapat apa-apa. Untuk beli minyak kapal saja kadang harus berutang ke Induak Samang yang punya kapal," ujarnya.
Meski telah kembali melaut, nelayan masih dihadapkan pada ancaman kayu sisa banjir yang berserakan di tengah laut.
Kayu-kayu tersebut kerap merusak alat tangkap. "Jaring kami bisa robek karena tersangkut kayu," kata Doni.
Saat ini, nelayan hanya dapat menggunakan metode payang dan alat pancing. Metode pukek yang biasa digunakan belum bisa diterapkan karena kondisi perairan belum bersih.
"Kayu-kayu di laut itu harus bersih dulu supaya pukek bisa dipakai lagi," ujarnya.
Akibatnya, nelayan terpaksa melaut lebih jauh untuk menghindari area yang dipenuhi kayu.
"Sekarang bisa sampai ke arah Pulau Pisang, ke Padang Selatan," tambah Doni.
Sebelumnya, ketika kayu gelondongan masih menumpuk di bibir pantai, nelayan sama sekali tidak bisa melaut karena kapal tidak dapat dilayarkan.
Untuk bertahan hidup, sebagian warga memanfaatkan kayu-kayu tersebut untuk dijual.
"Kalau sudah dikumpulkan, ada orang yang beli. Sekali angkut paling Rp300.000. Itu pun tidak rutin," ujar Doni.
Namun, penghasilan dari menjual kayu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Terpaksa berutang untuk beli beras," katanya
Komentar (0)