Ketergantungan penuh pada laut membuat hampir seluruh nelayan di kampung tersebut hidup dalam lilitan utang.
"Kami cuma berani berutang ke warung sekitar sini. Kalau ke bank, kami tidak berani, nanti membayarnya pakai apa," ujar Doni.
Kondisi serupa dialami keluarga nelayan. Ema Chaniago (45), istri nelayan setempat, mengatakan dirinya harus berutang ke warung untuk memenuhi kebutuhan dapur saat suaminya tidak bisa melaut.
"Untuk beli beras dan lauk pauk, terpaksa berutang secukupnya. Kalau terlalu banyak, pemilik warung juga tidak mau," kata Ema.
Ema yang memiliki warung kecil di dekat pantai juga sering menjadi tempat nelayan berutang.
"Kadang nelayan yang tidak dapat hasil melaut berutang ke warung saya, sekadar beli kopi atau kue," ujarnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, bantuan pertama datang dari pihak kelurahan.
"Lurah memberi tiga karung beras untuk kampung ini, mana cukup, Itu pun hanya cukup untuk dua atau tiga rumah," kata Ema.
Bantuan juga datang dari relawan dan pemerintah.
Ema menyebut, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang sempat menyalurkan beras dan nasi bungkus, sementara pemerintah memberikan bantuan sembako.
Selain itu, Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Padang juga menyalurkan bantuan kepada nelayan yang terdampak.
Sehari setelahnya, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah meninjau kampung nelayan tersebut dan meminta warga mengumpulkan data keluarga melalui lurah setempat. Namun hingga kini, warga mengaku belum mendapat kejelasan.
"Sudah hampir seminggu tidak ada kabar. Kami pasrah saja," ujar Ema.
Warga Kampuang Gantiang berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kondisi mereka. "Kami yang hidup di tepi pantai ini juga perlu diperhatikan," kata Ema.
Bencana alam yang melanda Sumbar akibat curah hujan ekstrem yang dipicu Siklon Senyar tidak hanya merusak rumah, jalan, dan infrastruktur, serta menimbulkan korban jiwa.
Dampak serius juga dirasakan pada sektor ekonomi, terutama masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada laut.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nelayan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Ahli Ekonomi dari Universitas Negeri Padang (UNP), Doni Satria, menilai bencana banjir bandang yang membawa material kayu hingga ke pesisir telah membuat kehidupan nelayan berada dalam kondisi tidak normal.
"Setiap bencana selalu ada korban. Tidak hanya korban langsung saat kejadian, tetapi juga korban ekonomi. Salah satunya nelayan di sepanjang Pantai Padang yang terdampak tumpukan kayu sehingga akses ke laut terganggu," kata Satria saat diwawancarai Ganto, Selasa (30/12/2025).
Menurut Satria, aktivitas ekonomi nelayan yang bersifat harian membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan. Ketika tidak melaut, maka tidak ada penghasilan.
"Hari ini kerja, hari ini dapat uang. Kalau tidak melaut, ya tidak dapat apa-apa. Dampaknya bisa langsung pada kebutuhan makan sehari-hari, kecuali mereka punya sumber pendapatan alternatif," ujarnya
Komentar (0)