Ganto.co - Jembatan darurat di Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, kembali roboh akibat tingginya curah hujan pada Rabu (11/3). Peristiwa ini mengganggu aktivitas masyarakat yang sehari-hari melintasi jalur tersebut.
Putusnya jembatan darurat membuat warga setempat berinisiatif mencari solusi agar mobilitas masyarakat tetap berjalan. Sejumlah warga kemudian membuat rakit sebagai sarana penyeberangan sementara bagi masyarakat yang ingin melintasi sungai.
Ismail, pembuat rakit, mengatakan bahwa pembuatan serta pengoperasian rakit tersebut telah mendapatkan izin dari wali nagari dan kepala jorong setempat.
"Wali nagari dan kepala jorong mengizinkan rakit yang kami buat bersama warga untuk diturunkan dan digunakan oleh masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa rakit tersebut dapat beroperasi selama 24 jam dan mampu mengangkut hingga tiga sepeda motor serta empat hingga lima orang pejalan kaki dalam satu kali penyeberangan.
Untuk menggunakan rakit tersebut, warga tidak dikenakan tarif tetap. Masyarakat hanya diminta memberikan bayaran seikhlasnya sebagai bentuk dukungan terhadap operasional rakit.
Selain membantu mobilitas warga, keberadaan rakit ini juga membuka peluang penghasilan bagi masyarakat setempat. Pengoperasian rakit dilakukan secara bergiliran oleh warga dari setiap jorong dengan sistem sif yang telah ditentukan.
Ismail menyebutkan bahwa warga yang bertugas mengoperasikan rakit dapat memperoleh penghasilan sekitar Rp40 ribu hingga Rp60 ribu per hari. Penghasilan tersebut dinilai cukup membantu perekonomian masyarakat di Anduriang di tengah kondisi jembatan yang belum dapat digunakan kembali.
Salah seorang warga, Zara, mengatakan bahwa keberadaan rakit sangat membantu aktivitas masyarakat, sekaligus menghemat biaya bahan bakar dibandingkan harus memutar melalui jalur alternatif yang lebih jauh.
Ia juga berharap pemerintah dapat segera memberikan solusi jangka panjang dengan membangun jembatan permanen agar aktivitas warga kembali normal.
Komentar (0)