Lukisan-lukisan dalam Gedung Galeri Taman Budaya menjadi temaram, pamornya sedikit terkalahkan ketika pukul 14.00 WIB "Di Balik Frekuensi" mulai berputar. Sebuah film dokumenter yang disutradarai olehUcu Agustin, berhasil diputar pada hari Selasa (19/2) atas usaha dan kerjasama komunitas Puta Pilem Padang dengan Taman Budaya Sumbar. Dihadiri oleh puluhan jurnalis lokal, budayawan, akademisi, dan juga pengelola media beserta dua orang pemantik, yaitu; Syofialdi Bachyul JB bersama Fitri Adona, yang merupakan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sumbar sekaligus pengurus Persatuan Wartawan IndonesiaSumbar.
Dengan durasi 144 menit 27 detik, Ucu menampilkan dua tokoh sentral. Luviana, seorang jurnalis yang telah bekerja sepuluh tahun di Metro TV, serta Hari Suwandi dan Harto Wiyono, dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong - Sidoarjo ke Jakarta. Seolah ingin mempertanyakan kembali untuk apa media bekerja, kedua tokoh tersebut menampilkan perjalanan nyata Luviana dan Hari Suwandi menentang pemilik dua media besar, Metro TV dan TV One.
Film dengan genre feature documentary ini, membuka mata dengan menampilkan realita pemberitaan, khususnya televisi. Realita kepemilikan media ini, akhirnya diketahui memanfaatkan frekuensi sebagai lahan kampanye partainya. Realita inilah yang kemudian dideskripsikan sebagai ‘konglomerasi’ media. Media yang menguasai ruang-ruang publik pun, akhirnya tidak lebih seperti tangan gurita kepemilikan kelompok kepentingan. Untuk alasan itulah, film Di balik Frekuensi hadir sebagai sebuah refleksi, penonton seolah dibawa untuk kembali mempertanyakan kembali mengenai kebebasan pers. "Apakah pers benar-benar sudah bebas, sedangkan kebebasan pers yang bergulir semenjak reformasi ini, faktanya hanya dimiliki oleh pengusaha-pengusaha partai besar, mereka yang akhirnya menguasai frekuensi, para pengusaha penguasa."
"Saya tidak bisa bilang bahwa orang-orang dimedia sekarang sakit, hanya saja mereka tidak independent" Ezki Tri Rezeki Widianti (Komisi Penyiaran Indonesia) dalam salah satu shoot yang ditampilkan film ini. Ada lagi Yanuar Nugroho, (peneliti senior bidang inovasi dan perubahan sosial Universitas Manchester) yang menyatakan, "Media saat sekarang menjadi kanal kekuasaan." Penonoton akhirnya akan sadar, bahwa realita dalam televisi sekarang buta, Ucu dalam filmnya, seolah ingin menyampaikan bahwa media dengan kepentingan pemiliknya sekarang, bertransformasi kembali menjadi ‘masa orde baru yang malu-malu.’ Kembali pada masa otokritik, penguasaan atas pengaruh publik dalam ruang-ruang publik
Komentar (0)