Ganto.co - SKK Ganto menerbitkan ulang laporan LPM Lintas mengenai kekerasan seksual di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon. Publikasi ini merupakan respon atas tindakan pembredelan yang diberlakukan Rektor IAIN Ambon, Zainal Abidin Rahawarin, terhadap LPM Lintas setelah laporan tersebut terbit dalam Majalah Lintas Edisi II Januari 2022.
Publikasi ini dilakukan atas seizin pihak redaksi LPM Lintas sebagai bentuk solidaritas atas pembungkaman dan kekerasan terhadap identitas pers mahasiswa.
SKK Ganto tidak akan menarik laporan ini sampai Rektor IAIN Ambon mencabut Keputusan Rektor IAIN Ambon Nomor 92 Tahun 2022 tentang Pembekuan LPM Lintas IAIN Ambon.
Korban tidak melaporkan kasus kekerasan seksual lantaran takut dipersulit di ujung studi. Dosen meminta mahasiswa mencari rekannya yang bisa dibayar untuk seranjang.
Sore itu, hari hampir remang. Mirna memenuhi panggilan ke rumah dosen dengan tujuan mengambil draft skripsi yang akan diujikan pada Selasa, 26 Oktober 2021.
Suasana di sekitar rumah yang berada di Wara, Desa Batu Merah Atas, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, itu sepi. Dosen itu, IL menyambutnya di dalam rumah dengan mengenakan celana pendek dan kaus singlet. Tak ada orang lain kecuali IL dan Mirna.
Mirna—bukan nama sebenarnya–sempat diminta melongok ke luar. Setelah tahu tak ada orang lalu-lalang, dosen itu memintanya menutup pintu. "Coba lihat, kalau tidak ada orang kunci pintu," kata mahasiswi 23 tahun ini, mengulang ucapan IL–kepada Lintas, Kamis, 18 November lalu.
Bukan kali pertama mahasiswi angkatan 2017 itu diminta bertemu di rumah. Tiga kali datang sendiri, dan lainnya bersama temannya. Hari itu, menurut Mirna, dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (Uswah) berusia 33 tahun ini pun meminta dia duduk mendekat dan memandang ke arahnya.
"Tiba-tiba dia bilang beta menganga ke sini. Padahal dia kasih keluar kemaluannya," tutur Mirna, terbata-bata. Ia semakin panik ketika IL memaksanya berhubungan badan.
Dosen itu mendesaknya dengan mengatakan, "Mengerti Pak. Pak punya istri tidak ada, satu kali ini saja!"
Mirna menolak. Namun, ia berujar, IL justru memaksa supaya keduanya saling memegang kemaluan. Desakan mesum itu tak berhenti di situ. Pada tangan kiri, tepat di jari manis, terpasang cincin permata merah. Mata IL tiba-tiba tertuju ke benda itu.
Selanjutnya, IL meminta Mirna menyerahkan cincin tersebut. "Beta pikir untuk apa, padahal dia kasih masuk cincin itu di ujung kemaluan," katanya. Setelah beraksi, IL mengembalikan cincin itu dengan menaruhnya langsung ke dalam tas atas perintah Mirna. "Terpaksa beta suruh dia isi dalam tas. Namanya katong punya cowok kasih, bagaimana mau buang?" ucap Mirna, lirih
Komentar (0)