Opini

Awas! Indonesia Berpotensi Dipimpin oleh Penderita Gangguan Jiwa

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 20 Agustus 2023 14:58 WIB • 👁 1.332 Pembaca
Awas! Indonesia Berpotensi  Dipimpin oleh Penderita Gangguan Jiwa
Sumber foto: nasional.sindonews.com

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Pada pertengahan 2023 jumlah penduduk Indonesia mencapai angka 278, 69 juta jiwa. Membludaknya angka kelahiran di tiap tahunnya menyebabkan Indonesia mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045. Bonus demografi merupakan kondisi populasi masyarakat akan didominasi oleh individu usia produktif yaitu usia dalam rentang 15-64 tahun.

Dilansir dari indonesiabaik.id jumlah penduduk Indonesia 70% nya dalam usia produktif pada periode 2020-2045. Generasi masa depan Indonesia ini disebut juga sebagai generasi emas 2045 karena usia produktif Indonesia mempunyai peran penting dalam menyukseskan pembangunan nasional. Oleh sebab itu, para individu di generasi inilah yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di Indonesia.

Menariknya, dalam program pembangunan berkelanjutan global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2015 memasukkan kesehatan mental ke dalam salah satu Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Dilansir Cambridge University Press diketahui bahwa kesehatan mental memainkan peran penting dalam upaya mencapai inklusi dan kesetaraan sosial, cakupan kesehatan universal, akses terhadap keadilan dan hak asasi manusia, serta pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Berpijak dari SDGs tersebut, maka generasi masa depan Indonesia akan terancam "Keemasannya". Dikarenakan saat ini kondisi kesehatan mental remaja yang akan mengatur laju negara kita nanti berada keadaan yang mengkhawatirkan. Hal ini berdasarkan hasil temuan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 diketahui satu dari tiga remaja (34.9%), setara dengan 15.5 juta remaja Indonesia memiliki satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir dan satu dari dua puluh remaja (5.5%).

Hal ini setara dengan 2.45 juta remaja Indonesia, memiliki satu gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Mirisnya, ditengah kondisi darurat kesehatan mental tersebut hanya 2.6% dari remaja dengan masalah kesehatan mental yang pernah mengakses layanan yang menyediakan dukungan atau konseling untuk masalah emosi dan perilaku.

Perlu diketahui, gangguan jiwa merupakan keadaan kesehatan yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, suasana hati, atau gabungan dari semuanya. Ada berbagai macam gangguan jiwa, namun yang paling umum terjadi dikalangan remaja antara lain fobia sosial, gangguan cemas menyeluruh, gangguan depresif berat, gangguan perilaku, gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD). Dari berbagai gangguan jiwa tersebut, gangguan kecemasan merupakan masalah yang paling banyak diderita oleh remaja.

Banyaknya remaja yang mengalami gangguan jiwa akan berdampak pada buruknya potensi produktivitas. Bila generasi muda yang merupakan bagian dari bonus demografi memiliki masalah kesehatan mental, maka dapat menyebabkan penurunan produktivitas, kreativitas, dan inovasi di tempat kerja. Oleh sebab itu, "melek" kesehatan mental merupakan investasi sumber daya manusia agar bonus demografi menjadi keuntungan bagi Indonesia.

Dapat disimpulkan banyaknya remaja dengan masalah gangguan jiwa memang menjadi ancaman bagi pembangunan bangsa. Namun, perlu dipahami bahwa remaja Indonesia dengan masalah kesehatan mental juga memiliki potensi untuk pemimpin yang baik jika mereka menerima dukungan yang tepat dan memiliki kemampuan. Perlu adanya program atas kolaborasi lintas sektor melibatkan pemerintah, pendidikan, keluarga, dan organisasi masyarakat dalam usaha menjaga kesehatan mental remaja sehingga generasi muda Indonesia bisa tetap menjadi generasi emas seperti yang dicanangkan dan para remaja dengan masalah jiwa untuk meraih potensi penuh mereka termasuk dalam peran kepemimpinan.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rizka Salsabila Bakhtra
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.