Kita hidup di zaman ketika hampir semua informasi dapat diakses dengan mudah melalui ujung jari. Bangun tidur, tangan dengan otomatis meraih ponsel. Berita, opini, hiburan, hingga edukasi mengalir tanpa henti di layar ponsel. Ironisnya, di tengah kemudahan itu, banyak dari kita justru gagap memahami apa yang kita konsumsi. Kita cepat membaca, namun lambat mencerna. Kita rajin berbagi, tapi jarang memverifikasi.
Fenomena ini bukan asumsi belaka. Laporan We Are Social (2024) memperlihatkan bahwa masyarakat di seluruh belahan dunia kerap menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di internet dan media sosial. Namun, tingginya intensitas penggunaan tersebut tidak senantiasa sebanding dengan kemampuan literasi penggunanya. Dengan kata lain, aktif secara digital tidak sama dengan cakap secara digital.
Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan pada cara kita menggunakannya. Menurut Paul Gilster (1997), literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat, tetapi kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi secara kritis. Sayangnya, aspek ini sering kali terabaikan.
Berkaca pada kebiasaan kita sehari-hari, judul berita dibaca setengah lalu langsung dipercaya sebelum membaca sepenuhnya. Contoh lain, ketika ada video yang memperlihatkan sesuatu seperti berita, beberapa orang kerap menyimpulkan dengan cepat sebelum membaca narasi pada video tersebut. Informasi yang terlihat benar langsung dibagikan tanpa cek sumber atau kebenarannya lebih dulu. Opini yang sejalan dengan keyakinan pribadi diterima mentah-mentah, sementara yang berbeda langsung ditolak dan dianggap salah karena tidak sejalan. Ini bukan hanya mengindikasikan kebiasaan buruk, tapi tanda bahwa literasi kita belum berkembang.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan pada generasi muda, khususnya Generasi Z yang sering disebut sebagaidigital native yaitu generasi yang lahir dan tumbuh bersamaan dengan teknologi. Namun, kedekatan generasi tersebut dengan teknologi tidak serta-merta membuat mereka kritis. Banyak dari mereka mahir menggunakan aplikasi, tapi belum tentu mampu memilah mana informasi valid dan mana yang menyesatkan. Di sinilah letak kontradiksinya, semakin dekat dengan teknologi belum tentu semakin bijak dalam menggunakannya.
Lebih jauh lagi, banjir informasi di era digital menciptakan ilusi pengetahuan. Kita merasa tahu banyak hal hanya karena sering melihatnya di media sosial. Kenyataannya, yang kita konsumsi sering kali hanya potongan informasi, bukan pemahaman secara menyeluruh dan utuh. Kebiasaan seperti ini membuat kita terbiasa melompat dari satu informasi ke informasi lain tanpa benar-benar memahami.
Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Rendahnya literasi digital membuat kita mudah terpapar informasi tidak akurat, manipulasi opini, bahkan konflik sosial. Kita bisa dengan mudah terprovokasi oleh narasi yang belum tentu benar. Dalam skala lebih luas, hal ini dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun konteks sosial yang lebih besar.Tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang populer itu berkualitas. Biasakan membaca secara utuh, bukan hanya judul.
Kedua, penting untuk mempertanyakan sumber informasi. Lebih dari itu, literasi tidak hanya soal digital. Literasi baca tulis, numerasi, sains, finansial, hingga budaya dan kewargaan semuanya saling berkaitan satu sama lain. Tanpa kemampuan membaca yang baik, kita sulit memahami informasi. Tanpa literasi numerasi, kita mudah tertipu angka. Tanpa literasi sains, kita mudah percaya mitos. Tanpa literasi finansial, kita bisa salah mengelola uang. Dan tanpa literasi budaya, kita kehilangan arah sebagai bagian dari masyarakat.
Pada akhirnya, hidup di era digital menuntut kita lebih dari sekadar mampu dan mahir menggunakan teknologi. Kita dituntut menjadi pengguna yang kritis, sadar, dan bertanggung jawab. Karena di tengah derasnya arus informasi, yang kita butuhkan bukan hanya akses, tetapi kemampuan memahami dan menilai.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!