Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 114 Tahun 2021 Universitas Negeri Padang ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Nasional Berbadan Hukum (PTN-BH). Menurut SEVIMA berdasarkan dari Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2015 tentang Bentuk dan Mekanisme Pola Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, disingkat PTN BH adalah perguruan tinggi negeri yang didirikan oleh pemerintah yang berstatus sebagai badan hukum publik yang otonom.
Jika ditelisik dari sisi Sejarah, pola atau mekanisme PTN-BH ini ditetapkan pada tahun 2012 terhitung sejak Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi disahkan. Semua PTN-BHMN kemudian dijadikan sebagai PTN-BH.
UNP sebagai salah satu bagian dari 16 PTN-BH yang ada di Indonesia merupakan sebuah prestasi yang hebat, melihat dari tujuan dari PTN-BH ini yaitu menciptakan sebuah lembaga perguruan tinggi yang berkelas internasional, UNP menjadi bagian dari itu.
Namun belakangan ini terdapat fenomena terhitung sejak UNP mendeklarasikan keanggotaan PTN-BH nya ke semua elemen penyusun dari Universitas Negeri Padang yaitu kritik pedas dari Mahasiswa. Kritik mahasiswa UNP dari segala penjuru semuanya menjadikan PTN-BH ini menjadi "Biang kerok," dari semua keputusan yang menurut mereka memberatkan suatu pihak.
Berkaca dari fenomena tersebut penulis akan coba membahas perihal ini dengan usaha senetral mungkin. Tulisan ini mungkin dinilai bermuatan pro birokrat, sensitive untuk beberapa pihak yang fanatik kebencian dengan PTN-BH. Tujuan penulis adalah berusaha menyampaikan kritik juga kepada kritikus-kritikus diatas, sebuah paradoks memang.
Apakah yang mengkritik adalah mahasiswa?
Berangkat dari sub-judul diatas yaitu sebuah pertanyaan apakah yang mengkritik adalah mahasiswa, ada beberapa poin yang ditemukan oleh penulis. Pengakuan, penulis adalah salah satu pemantau setia dari kritikan-kritikan dari mahasiswa UNP, wabil khusus di laman Instagram.
Kritik dari mahasiswa UNP perihal keterkaitan embel-embel PTN-BH UNP dinilai sangat meberatkan, penulis sepakat jika ditinjau dari sisi pribadi bahwa di UNP berat, tapi apakah itu akibat PTN-BH? Bisa Jadi bukan.
Terdapat banyak kritikan yang disampaikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UNP sebagai organisasi yang menghimpun mahasiswa UNP, sekaligus sebagai penyambung lidah mahasiswa yang dekat, yang jauh tidak. Kritikan tersebut mungkin disetujui oleh sebagian besar mahasiswa, terbukti dari minimnya opini tidak setuju terhadap kritikan itu. Selain itu kritikan juga hadir di banyak kolom komentar, atau mungkin dari beberapa sudut pandang disampaikan secara pribadi melalui akun independennya.
Sayang seribu sayang, mungkin itu kata yang tepat dari penulis menanggapi dari suatu kritikan yang dilontarkan oleh BEM atau mahasiswa lainnya secara masif, saya bertanya mengapa demikian bentuknya?.
Bentuk dari kritik itu menurut penulis sangat tidak efektif, berisi logika yang belum teruji apakah logika itu benar atau mungkin sebenarnya hanya bentuk dari muka representative mahasiswa unp saja, jelas itu lebih berbahaya. Jika jawabannya adalah kritik penulis rasa hal itu mungkin akan membuang waktu saja, sebab sama sekali tidak melambangkan cara berkritik kaum intelek jika perihal PTN-BH sama sekali tidak disinggung kajiannya, terkesan asal kritik.
Jika jawabannya sebagai bentuk dari representasi mahasiswa UNP, apa bedanya dengan pejabat yang kampanye? Apa bedanya dengan birokrat, dan jika memang representasi umum dari mahasiswa UNP ini lebih menyakitkan lagi setuju atau tidak kita harus berdamai dengan fakta bahwa memang kualitas kita mahasiswa UNP memang hanya demikian bentuknya.
Kajian yang seolah satu arah, tanpa data yang beragam. Data yang dipakai pun menurut penulis cenderung memakai data yang mendukung saja, tanpa ada perbandingan data dan opini dari pihak yang lain, apakah itu yang disebut sebagai critical thinking?.
Jika kajian yang tersaji baik, bukan tidak mungkin akan menjadi pertimbangan, namun jika hanya berteriak "Sudahi kapitalisasi pendidikan ini!,"apakah hal itu akan dipertimbangkan?. Mungkin belum bisa, satu kebijakan akan dikaji sangat lama terutama analisis resiko dan pemangku pertanggungjawaban dari kebijakan.
Mahasiswa harus sadar bahwa ia sekarang hidup di masa positivisme, bukan phsyco analytics lagi. Walau dalam beberapa hal logika dapat dilakukan, namun untuk hasil yang objektif karena ini menyangkut khalayak ramai, logika tanpa landasan seperti demikian terbukti tidak efektif.
Kita tidak bisa menutup mata dan telinga dengan fakta bahwa para pemangku kebijakan telah melaksanakan tugasnya yaitu membuat kebijakan yang selalu kita protes ini. Mereka bisa saja merubah kebijakan itu namun tidak semudah menekan tombol ON/OFF lampu kos kita, perlu analisis resiko, dan data yang matang. Lalu apakah kita sudah memberikan itu kepada mereka? Jika sudah tunggu saja perubahannya.
Refleksi
Kebijakan kontroversial terbaru dari UNP adalah kenaikan biaya uang pembangunan yang dipatok senilai 10 Juta, beserta kenaikan UKT. Banyak yang beranggapan bahwa UNP belum terlalu pantas untuk mematok uang pembangunan sebesar itu jika dilihat dari kualitasnya. Menurut penulis bagus kalau demikian, jika 10 juta tidak pas untuk berkuliah di UNP saudara yang bersangkutan yang dalam hal ini adalah calon mahasiswa, tinggal tidak memilih UNP dan berkuliah di tempat lain yang dirasa sesuai. Sampai saat ini belum ada suatu fakta riil bahwa ada kejadian pemaksaan atau pun "Bjorka" UNP yang secara sengaja menghack situs dan menekan UNP sebagai pilihan PTN nya, jadi beliau bisa memilih dan sejatinya memang harus selektif.
Kemudian untuk mengkritisi perihal PTN-BH memang langkah yang harus kita lakukan adalah memahami skema dan mekanisme dari PTN-BH terlebih dahulu, sudah waktunya "art of war nya Niccolo Machiavelli kita terapkan disini. Sosialisasi dan diskusi perihal PTN-BH terlebih dahulu, kemudian baru kita akan mengetahui salah kita dan salah UNP. Sampai saat ini hal itu belum dilakukan, sebagai permulaan perubahan kita harus menyiapkan amunisi sebanyak mungkin.
Sebagai narasi penutup, penulis disini hanya menyampaikan opini. Tulisan ini bebas untuk di kritik ataupun ditafsirkan sesuai pemahaman masing-masing. Tidak ada tendensi apapun dalam tulisan ini.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!