Sebuah mobil sedan berjalan pelan memutari area sebuah monumen. Si pengendara menggunakan area ini sebagai tempat untuk belajar mengendarai mobil. Area yang luas dan lengang ini, sering digunakan orang untuk belajar mengemudi. Hal ini dikarenakan keberadaan monumen di Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang ini nyaris tanpa pengunjung. Terkadang hanya beberapa pasangan muda-mudi yang duduk santai bercengkrama dipelataran monumen.
Ada sebuah plang bertuliskan "MONUMEN PESAWAT" yang semua hurufnya tidak lagi lengkap, karena ada beberapa yang sudah lepas. Monumen pesawat yang dicat serba putih ini juga dikelilingi taman bunga dan rumput-rumput panjang tak beraturan.
Di bawah monumen pesawat yang melayang pada ketinggian lebih kurang delapan meter ini, terdapat enam patung manusia yang berdiri melingkar. Ada patung amai-amai (sebutan untuk kaum ibu di Minang) dan patung niniak mamak (tokoh masyarakat dalam Minang) yang juga dicat putih. Di dinding monumen ini juga terukir bentuk-bentuk perjuangan masyarakat Minang melawan penjajah pada masa lalu.
Monumen pesawat ini, hanya berjarak sekitar lima kilometer dari kota Bukittinggi. Monumen ini dibangun atas kerjasama Pemerintah Daerah Agam dan Pemerintah Kota Bukittinggi pada tahun 2003. Tepatnya pada 27 September 1947. Saat masih berlangsungnya agresi militer Belanda I, Dr. Moh. Hatta membentuk sebuah panitia. Panitia ini bernama panitia pengumpulan emas, dimana emas yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk membeli sebuah pesawat untuk melawan serangan Belanda.
Hanya berselang beberapa hari pasca dibentuknya panitia pengumpulan emas ini, Hatta mengadakan apel besar di lapangan utama Bukittinggi (lapangan kantin). Selaku wakil presiden, Hatta menyampaikan bagaimana situasi dan kondisi Negara Indonesia saat itu. Ia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Minang untuk mengulurkan tangannya guna memberikan bantuan untuk perjuangan melawan penjajah.
Masyarakat Minang sangat merespon baik himbauan tersebut terutama kaum ibu-ibu. Mereka dengan suka rela menyumbangkan perhiasan yang mereka miliki, baik perhiasan emas maupun perak yang berupa liontin, kalung, gelang, anting, dan cincin. Pada saat itu terkumpullah perhiasan seberat 14.5 kilogram yang dilebur menjadi emas batangan.
Sumbangan yang terkumpul akhirnya sanggup membeli sebuah pesawat terbang yang didatangkan dari Inggris melalui Landasan Udara (Lanud) Manguwo Yogyakarta menuju Lanud Gandut Agam. Pesawat ketiga yang dimiliki Indonesia ini diberi nama AVRO ANSON RI 003. Sayangnya, pesawat ini tidak berumur panjang untuk membela tanah air. Saat mengudara membeli senjata perang ke Siam, Thailand, Pesawat ini jatuh ke laut dekat Tanjung Hantu perairan Selat Malaka karena mengalami kerusakan mesin. AVRO ANSON RI 003 oleng, dan akhirnya hilang bersama pilotnya, Halim Perdana Kusuma dan Iswahyudi. Kedua pilot ini gugur sebagai bunga bangsa. Nama mereka pun diabadikan sebagai nama bandara. Lanud Halim Perdana Kusuma di Jakarta dan Lanud Iswahyudi di Madiun.
Komentar (0)