Siang itu, Romi seorang nelayan di kawasan Muaro Padang, tengah bersantai di bawah pohon yang tak jauh dari tepian dermaga tempat kapalnya berlabuh. Ia bersama dengan empat orang temannya yang lain tengah berbincang-bincang sembari melepas penat setelah kembali dari melaut. "Indak basuo modal kapatang lai doh," keluh Romi memulai percakapan siang itu. Romi yang baru saja pulang melaut merupakan nelayan yang bertempat di perkampungan nelayan Muaro Padang.
Hasil tangkapan Romi saat itu cuma 300 kg, jika dihitung penghasilan kotornya sekitar lima juta rupiah bisa dikantongi. Namun, uang tersebut nantinya harus dibagi lagi untuk pengeluaran lainnya seperti perbaikan kapal, membayar hutangsebelum melaut, bagi hasil dengan pemilik, ketua kapal dan nelayan lainnya yang juga ikut melaut. Dari bagi hasil tersebut, satu orang kira-kira hanya kebagian lima ratus biru rupiah saja. "Rugi, dari lapan juta modal awal, hanyo limo juta pulang ka ambo," keluh Romi, Minggu (10/2).
Modal delapan juta yang diceritakan Romi itu digunakan untuk keperluan sebelum berangkat melaut. Kebutuhan yang akan dipenuhi itu seperti bahan bakar kapal (solar), ransum (makanan selama 15 hari melaut), uang untuk keluarga yang ditinggal, balok es serta dana tak terduga. Masalah tidak kembalinya modal ini membuat nelayan dikawasan Muaro Padang kebanyakan berhenti melaut.
Selain masalah keuangan, Romi dan temannya mengaku kesulitan dalam mendapatkan bahan bakar solar. Untuk mendapatkan solar, nelayan harus melapor terlebih dahulu kepada Dinas Perikanan agar dapat kupon yang digunakan dalam transaksi pembelian solar di SPBU. "Tidak itu saja, lokasi penyedia solar yang semakin jauh menambah beban ongkos nelayan," tambah Hamdani, salah seorang rekan Romi yang turut berkumpul.
Bicara mengenai kesulitan yang dirasakan Romi dan berapa rekannya, membuat pertanyaan mengenai bagaimana koordinasi nelayan Muaro Padang dengan organisasi dan instansi yang berkaitan dengan pekerjaan mereka ini.
Merujuk pada sektor pertanian banyak sekali yang membuat petani berhasil, salah satunya adalah koordinasi antara pemerintahan, dinas terkait dan organisasi masyarakatnya. Ternyata, tak terjalin koordinasi yang baik dalam organisasi nelayan di Muaro yang bernama HNSI (Himpunan Nelayan Se-Indonesia). Apalagi dengan pemerintah setempat seperti kelurahan dan Dinas Perikanan Sumatera Barat (Sumbar) sekalipun. "Kami memang punya ikatan organisasi semacam itu, tapi kurang tampak geliatnnya," ujar hamdani
Komentar (0)