Ganto.co - Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Suharyono bersumpah atas nama Allah, bahwa apa yang disampaikannya perihal kematian Afif Maulana bukan karena disiksa polisi, pada saat menemui massa "Aksi Tuntut Keadilan," di depan Polda Sumbar, Rabu (26/6).
Suharyono meminta massa yang hadir di dalam aksi untuk dapat membuktikan data dan bukti ke Polda Sumbar dan berjanji memecat oknum polisi jika terbukti melanggar SOP saat menertibkan tawuran.
"Buktikan siapa yang bisa mangajukan data selain dari yang saya sampaikan. Saya hanya bicara fakta, demi Allah. Demi Rasulullah, saya juga lulusan Muhamdiyah sama dengan anak saya (Afif Maulana)," ujarnya.
Suharyono menjelaskan dengan rinci kronologi padam malam saat diamankannya sejumlah orang yang diduga akan melakukan aksi tawuran di Jembatan Kuranji.
"Saya bertanggung jawab kepada Allah atas apa yang saya ucapkan ini. Pada malam itu pukul 23.00 WIB, A (17) dan Afif (13) membikin mie instan di rumah A, kemudian berangkat pukul 01.00 WIB untuk bertemu kelompoknya (gangster) yang berjumlah total 35 orang. Mereka menuju Jembatan Kuranji dan akan melakukan penyerangan ke gangster yang lain," jelasnya.
Ia kemudian memerintahkan 30 anggota kepolisian untuk mencegah tawuran di beberapa wilayah, dan berhasil mengamankan 12 sepeda motor dan 18 orang calon pelaku tawuran.
"Malam itu saya perintahkan 30 anggota turun untuk mencegah itu (tawuran), pukul 02.00 WIB anggota kami meluncur ke wilayah tertentu untuk menghambat laju dua gangster ini, akhirnya 2 gangster ini tidak jadi ketemu karena sudah dihambat di Jembatan Kuranji, kemudian tertangkaplah sejumlah 18 orang calon pelaku tawuran, 12 sepeda motor kami amankan, dan 18 orang kami bawa ke Polsek Kuranji, satupun tidak ada yang bernama Afif Maulana," tambahnya.
Ia juga menjelaskan, berdasarkan keterangan A, mereka berdua terjatuh dari sepeda motor karena ketakutan pada saat melarikan diri dari kejaran polisi, kemudian Afif mengajak A untuk melompat ke sungai. Namun, ajakan Afif tersebut ditolak oleh A.
"Pada saat di kejar polisi, Afif dan A terjatuh dari sepeda motor karena ketakutan dan mencoba melarikan diri, tidak lebih dari satu menit setelah jatuh, Afif mengajak A melompat (ke bawah jembatan) untuk mengamankan diri, karena pada saat itu pukul 03.00 dini hari, mereka tidak tahu kedalaman dan kondisi sungai. A sibuk mencari handphonenya yang hilang pada saat terjatuh dari sepeda motor, sambil menolak ajakan dari Afif untuk melompat ke sungai, A menjawab 'kita menyerahkan diri saja'. Setelah itu A tidak mendengar jawaban dari Afif, dan di waktu yang bersamaan A ditangkap oleh pihak kepolisian. Pernyataan dari A tersebut bukan intervensi," jelasnya
Komentar (0)