Ganto.co -Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatra Barat (Sumbar) mengadakan diseminasi dan diskusi publik bersama Labor Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang (UNP). Kegiatan ini mengusung tema "Transisi Energi yang Adil, atau Solusi Palsu?" ini, diadakan di Ruang Sidang Senat, Gedung Rektorat Baru UNP, Selasa (30/1).
Kegiatan ini dihadiri beberapa pemateri yaitu, Walhi Sumbar, Andre Bustamar; YLBHI-LBH Padang, Diki Rafiqi; Dosen Sosiologi Lingkungan Hidup UNP, Khairul Fahmi, S.Sos, M.Si.; Guru Besar Ilmu Lingkungan UNP, Prof. Dr. Indang Dewata, M.Si.
Pemateri pertama, Andre Bustamar mengatakan bahwa WALHI Sumbar sering melakukan riset tentang transisi energi dan dampak yang ditimbulkan dari energi tersebut kepada masyarakat.
"Akhir-akhir ini kami sering melakukan riset terutama transisi energi dan bagaimana dampaknya terhadap masyarat di lapangan," ucapnya.
Ia juga mengatakan sebagian besar sumber energi Indonesia sudah berasal dari beberapa energi terbarukan.
"52% dari sumber energi kita sudah bisa dikatakan sebagai energi terbarukan menurut pemerintah yaitu dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)." ujarnya.
Selanjutnya, Andre menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari pembangunan PLTP terutama PLTP Muara Laboh.
"Dampak yang ditimbulkan adalah perampasan lahan, perubahan mata pencarian, penurunan daya dukung lingkungan, pencemaran, kerusakan lahan, dan intimidasi kepada masyarakat," jelasnya.
Pemateri kedua, Diki Rafiqi menuturkan untuk menjawab persoalan mengenai perubahan energi (climate change),kata transisi energi selalu menjadi jawaban.
"Kata transisi energi selalu dibilang dan menjadi jargon sakti untuk menjawab segala persoalan lingkungan khususnya climate change," ucapnya.
Pemateri ketiga, Khairul Fahmi, S.Sos, M.Si menyampaikan faktor utama pendorong terjadi eksploitasi.
"Faktor yang mendorong terjadinya eksploitasi ada dua, yaitu keuntungan dan keberlangsungan hidup sehari hari, maka dari itu paradigma transisi energi adalah investasi" ujarnya.
Lebih lanjut, Khairul menuturkan optimalisasi kebijakan transisi energi adil dapat diwujudkan dalam tiga dimensi yaitu akses, partisipasi, dan peluang.
"Ada tiga kebijakan yang dapat mengoptimalkan transisi energi yaitu akses melalui literasi kebijakan, partisipasi, dan peluang," tuturnya
Komentar (0)