"Lihat resiko yang telah kamu ambil, nanti kalau ada anak Arkadia merusak ini sekret, saya tidak akan bisa nanggung ,"
"Kalau saya minta ditutup ini bisa , gara-gara siapa? Tulisan recehan, fitnah lagi,"
"Yang dilukai itu bukan cuma korban, pelaku, tapi kita keluarga besar, Islam khususnya,"
"Sekarang juga kamu takedown tulisan kamu, SEKARANG JUGA. Tidak pakai detik lagi ,"
"Masalahnya bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau. Tidak ada alasan tidak bisa takedown,"
"Ini masih satu badai, masih ada badai-badai lain yang lebih besar,"
"SAYA BISA SUMPAHIN KALIAN SEMUA GAK LULUS!!"
"Apakah LPM mau disalahkan jika ada kasus seperti ini di dalam organisasi kalian?,"
Pihak Institut menjawab "mau" namun alumnus tersebut mengatakan
"nggak mungkin. Karena bukan kamu pelakunya. Ini masalah harga diri,"
"Aku nggak belajar agama banyak, tapi yang saya tahu, tugas kita sebagai umat muslim adalah menyembunyikan aib saudara sendiri, bukan diumbar,"
Pihak Institut mengaku terus-menerus ditekan bahkan tidak diberi ruang untuk berdialog. Pihak Arkadia tetap meminta berita tersebut ditakedown hingga pada pukul 15.00 karena terus ditekan secara terpaksa LPM Institut men-takedown berita itu.
Pukul 15.12 Pemimpin Umum LPM Institut menghubungi LBH APIK dan menceritakan mengenai tekanan dar pihak Arkadia.
Sekitar pukul 15.15 salah seorang anggota LPM Institut, mendengarkan salah seorang senior Arkadia mengatakan kalimat ancaman kepada Institut " Kalau kita usik satu saja orang Arkadia, hancur ini LPM.
Arkadia juga meminta institut untuk menulis surat perjanjian dengan isi permintaan maaf yang sudah disiapkan oleh Arkadia yaitu.
1. Ketidakprofesionalan lembaga karena memberikan informasi yang tidak berimbang (tidak adanya verivikasi dalam pemberitaan yang sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik)
2. Adanya tindakan yang menyebabkan tercorengnya nama baik lembaga terkait Pemimpin Umum LPM Institut mulai ditekan untuk menandatangani surat tersebut, namun ia menolak.
Pukul 15.49 WIB Pemimpin Umum Institut kembali pihak LBH APIK dan pihak tersebut mengatakan tidak perlu menandatangani surat perjanjian tersebut. Bahkan, kata dia, tak perlu untuk membuat permintaan maaf ke publik dan sosial media LPM Institut.
Kemudian PU beralasan akan mengadakan zoom terlebih dahulu di pukul 17.00 WIB. Karena paralegal yang kami hubungi mengatakan akan membagikan link zoom konsultasi dengan LBH APIK di pukul 17.00 WIB.
Namun dari LBH Apik masih ada kendala, sehingga sesi zoom masih diundur.
Pukul 16.50 WIB beberapa teman LPM diminta untuk keluar sekret oleh PU. Disebabkan PU tau keadaan akan semakin tidak aman dan suasana negosiasi sudah tidak kondusif. Maka dari itu LPM Institut ingin mengakhiri dan melanjutkan penandatanganan surat perjanjian di lain waktu yang lebih aman dan kondusif. Dan mereka menagih jam persisnya. Kemudian PU asal menjawab jam 9 malam. PU memilih jawaban seperti itu. supaya bisa mengulur penandatangan perjanjian dan bisa keluar dari kampus terlebih dahulu
Komentar (0)