Musyawarah Nasional (Munas) Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang Ke- XIV di Universitas Andalas (Unand) sudah menetapkan Nofrian Fadil Akbar dari Universitas Riau menjadi Koordinator Pusat BEM SI 2021. Sebelum penetapan tersebut, 132 delegasi Munas BEM SI memutuskan untuk tidak melanjutkan sidang, serta memilih walk out dari ruang sidang pleno di Auditorium Unand. Hal ini dilakukan dalam bentuk solidaritas terhadap beberapa delegasi Munas yang tidak diterima sebagai peserta.
Buntut dari walk out tersebut, 132 delegasi melaksanakan Munas baru selama dua hari, pada tanggal 1 sampai 2 April 2021 di Asrama Haji Kota Padang.
Hasil dari Munas BEM SI versi walk out , menetapkan Wahyu Suryo Pratama dari Universitas Negeri Semarang sebagai Koordinator Pusat BEM SI 2021. Menanggapi dua kubu yang terpilih sebagai Koordinator Pusat BEM SI 2021, Jamjam Purnama dari Institut Pendidikan Indonesia menegaskan bahwa Munas yang di gelar di Asrama Haji lebih legal dibandingkan Munas di Unand, karena dihadiri 132 dari 150 delegasi.
"BEM SI ini adalah sebuah Aliansi dan bukan organisasi, jadi forum permusyawaratan tertinggi adalah musyawarah. Pusat sudah mengeluarkan surat untuk pencabutan mandataris dari kampus Unand sebagai penyelenggara Munas BEM SI ini, dan pada akhirnya panitia Unand menolak. Jadi seolah-olah hari ini kampus Unand melegitimasi kepunyaan BEM SI. Jadi kami dari 132 BEM SI yang walk out menyeleggarakan Munas di Asrama Haji. Jadi pembeda kami dari Munas Unand adalah lebih legalnya Munas kami, karena legitimasi dari 132 peserta, dari total peserta 150 BEM SI. Jadi dalam forum musyawaratan kami yang legal," tutur Jamjam, Jumat (2/4).
Lebih lanjut, Jamjam menuturkan bahwa Munas yang dilakukan di Asrama Haji tersebut adalah sebagai bentuk solidaritas bagi peserta Munas yang tidak bisa masuk kedalam kegiatan Munas dikarenakan tidak diperkenangkan hadir karena permasalahan registrasi. Menanggapi Pres Release yang dikeluarkan oleh akun resmi BEM SI mengenai Munas yang ke-XIV, Jamjam menyebut itu adalah sebuah akal-akalan.
"Itu adalah akal-akal dari mereka, padahal kita yang walk outtidak menanyakan hal itu. Yang pertama kali kita tanyakan adalah database peserta munas datang dalam kegiatan munas BEM SI pada saat itu, tapi mereka tidak memberikan data sama sekali, dikarenakan mereka tidak mempunyai datafix. Seolah-olah ada hal yang disebunyikan oleh panitia. Padahal masalah database bersifat terbuka dan bukan milik panitia," jelasnya
Komentar (0)