Wahyu Suryo Pratama, Koordinator Pusat BEM SI terpilih menyebut Munas yang diadakan di Asrama Haji bukan Munas tandingan, melainkan mencari tempat baru untuk 132 anggota BEM SI untuk diskusi bersama. Selanjutnya, Ia menyebut bahwa Munas tersebut tidak dihadiri oleh pengurus inti BEM SI periode 2020.
"Kalau untuk pengurus inti BEM SI 2020, kita sudah berkomunikasi pada jajaranya, bahwasanya kita sudah meminta pengurus inti untuk hadir, dan harus menyelesaikan konflik yang ada. Sehingga konflik secara horizontal ditataran mahasiswa khususnya yang ada di tubuh BEM SI tidak terjadi. Tapi kita menyayangkan sikap BEM SI atau sikap dari pengurus inti periode 2020 nihil dalam penyikapan dan nihil dalam penyelesaian, sehingga kita mengadakan Munas," tuturnya.
Selanjutnya, Mahasiswa Unnes ini juga mengatakan tidak menyepakati hasil yang di keluarkan dalam sidang di Unand dan mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap panitian Unand karena tidak memahami fungsi dan tugasnya.
"Sebelum kami berangkat kesini, kami sudah menyatakan mosi tidak percaya kepada seluruh peserta, dan kita sudah menyatakan tidak terima dan tidak menyepakati hasil apapun sidang yang sudah dilaksanakan oleh 36 kampus yang disana. Sehingga kita tidak perlu menanyakan kembali, kita sudah berada dalam satu narasi dan satu tuntutan, dan juga kita sudah memberikan mosi tidak percaya kepada panitia Unand karena sudah memberikan intervensi kepada forum yang berlebihan dan sewenang-wenang karena tidak memahami tugas dan fungsinya," tegasnya.
Lebih lanjut, Wahyu menyebutkan hasil Munas di Asrama Haji hanya bersifat mandataris, sehingga forum akan mengadakan kosolidasi pada saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BEM SI. Selain itu Wahyu menengaskan fasilitas yang didapat oleh peserta Munas tersebut bersifat inisitif pribadi, dan tidak ada di sponsor oleh pihak tertentu.
Komentar (0)