Demi menghasilkan lulusan terbaik, dua fakultas di UNP, Fakultas Ekonomi (FE) dan Fakultas Teknik (FT) memberlakukan Test of English as Foreign Languange (TOEFL) bagi mahasiswa dua fakultas tersebut. Kedua fakultas ini menjadikan TOEFL sebagai syarat wajib bagi mahasiswa yang akan mengikuti siding skripsi sebelum diwisuda. Jika belum memenuhi skor yang telah ditentukan, mahasiswa belum bisa mengikuti ujian akhir skripsi. Risa, Mahasiswa Pendidikan Ekonomi TM 2006 mengaku sangat mendukung program ini. Menurutnya, saat ini bahasa Inggris memang menjadi poin penting dan berpengaruh di dunia kerja. "Apalagi ketika melamar pekerjaan, ada yang mewajibkan mampu berbahasa Inggris," terangnya, Jumat (18/11).
Pemberlakuan wajib TOEFL untuk mahasiswa FE sudah diterapkan sejak 2006. Pelaksana ujian TOEFL di FE ini bekerjasama dengan Golden English Center, sebuah lembaga kursus TOEFL yang ada di Kota Padang. Hal ini disampaikan Pembantu Dekan I FE, Dr. Hasdi Aimon, M.Si., TOEFL merupakan kebijakan dari fakultas melalui rapat dewan dosen, kemudian disahkan oleh senat FE. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas lulusan FE sendiri, serta menyiapkan mahasiswa untuk turun ke dunia kerja. "Agar mahasiswa lebih siap di dunia kerja nantinya," jelasnya, Senin (21/11). Dengan anggaran sebesar Rp50ribu setiap kali tes, mahasiswa harus mencapai skor minimal 425 untuk bisa ujian kompre.
Hal yang sama juga berlaku di FT. Pogram wajib TOEFL sebagai syarat ujian siding skripsi ini sudah diterapkan sejak ISO:2002 tahun 2006 dan diberlakukan bagi mahasiswa TM 2008 ke atas. "Agar terwujud lulusan yang berkualitas dari UNP," ujar Pembantu Dekan III, Drs. Bahrul Amin, ST. M.Pd., Rabu (30/11). Berbeda dengan FE, FT tidak melakukan kerjasama dengan lembaga bahasa Inggris. Mahasiswa bebas memilih lembaga TOEFL manapun dan skor minimal yang harus dicapai mahasiswa adalah 400. Lebih lanjut Bahrul menegaskan, TOEFL memiliki poin terbesar dalam Sistem Kredit Poin Prestasi Ekstrakurikuler, yaitu 50 poin agar mahasiswa dapat diwisuda.
Namun kebijakan FT ini tidak sepenuhnya didukung oleh mahasiswa FT. Salah seorang mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya, mengeluhkan program ini karena peraturan ini sangat memberatkannya."TOEFL itu ‘kan butuh biaya banyak," keluhnya, Sabtu (26/11).
Di luar FE dan FT, seperti Fakultas Ilmu Sosial (FIS) tidak menerapkan TOEFL bagi mahasiswanya. Ketika ditemui, Pembantu Dekan I, Drs. Emizal Amri, M.Pd., M.Si., menerangkan TOEFL tidak perlu dilaksanakan. "Saya piker untuk menjadi guru biasa tidak memerlukan TOEFL," terangnya, Jumat (18/11). Namun, lanjutnya, jika menjadi guru di Sekolah Berstandar Internsional (SBI) atau bekerja di perusahaan asing, TOEFL memang dibutuhkan
Komentar (0)