"Tere Liye itu tidak pernah terkenal, yang kalian kenal itu adalah tulisannya," demikianlah open statement yang disampaikan Tere Liye saat pembuka Talkshow Kepenulisan Nasional Pena Persma 2017 di Gelanggang Mahasiswa kampus Universitas Islam Negeri Sumatra Utara Sutomo, Sabtu (14/10).
Tere Liye, nama yang tidak asing lagi di telinga. Pemilik nama asli Darwis ini sudah memulai karir kepenulisannya sejak di bangku sekolah dasar. Awalnya, ia hanya menulis cerpen dan puisi kemudian mengirimkannya ke majalah anak-anak, seperti majalah Bobo, Tomtom, dsb. Tapi sayang, tulisan tersebut tidak pernah dimuat.
Saat SMP dan SMA, Tere Liye telah terbiasa menulis dan mengirim tulisannya ke majalah dan koran lokal tempat ia tinggal. Setelah kuliah, penulis yang telah menghasilkan 28 buku ini mulai mengirim tulisan berupa artikel opini di koran nasional, seperti kompas. Sejak saat itu, karir penulisannya berlanjut ke novel.
Pada tahun 2005 lalu, Tere Liye telah menghasilkan empat novel, hanya saja novel-novel tersebut kurang diminati pada saat itu. Di awal tahun 2008 novel keempat berjudul Hafalan Sholat Delisa diterbitkan oleh penerbit Republika, akan tetapi belum banyak dikenal orang. Namun setelah tiga tahun yang lalu barulah novel tersebut terkenal.
Akhirnya, Tere Liye memutuskan untuk menjadi seorang penulis novel. "Boleh jadi cara mendidik atau menanamkan pemahaman yang baik itu dengan menulis cerita," ungkap Tere Liye mengenai alasannya memilih menekuni dunia novel.
Dia tidak pernah berhenti menulis meski pernah mengalami beberapa kali kegagalan. "Karena solusi mendidik yang baik itu, yaitu melalui cerita," ujar penulis yang beberapa karyanya pernah di filmkan, seperti Hafalan Sholat Delisa dan Bidadari-Baidadari Surga serta Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yang juga segera difilmkan.
Tere Liye mengatakan penulis yang baik selalu memiliki tiga syarat, yaitu harus banyak-banyak membaca buku, melakukan perjalanan, dan bertemu dengan orang-orang bijak. Ketika ingin menulis novel, kata Tere Liye, perlu adanya riset terlebih dahulu. Untuk melakukan riset, ada dua opsi cara yang dapat dilakukan, yaitu observasi lapangan dan membaca buku. "Riset itu kadang menyakitkan, ketika kalian tidak punya data dan informasi," ujarnya.
Lebih lanjut, Tere Liye mengatakan latihan adalah kunci utama untuk dapat baik dalam menulis."Problemnya adalah kalian tidak pernah melatihnya. Tidak ada cara membuat alur cerita yang lebih baik selain latihan, latihan, dan latihan," jelasnya.
Reporter: Antonia Dwi Rahayuningsih dan Oktri Diana Putri
Komentar (0)