Menurut sulung dari dua bersaudara ini, teknik ini bisa menciptakan buku yang bisa menjembatani generasi muda Indonesia agar bisa membaca buku yang lebih "berat". Sebelumnya, ada dua buku yang juga menggunakan teknik serupa, yaitu Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang dan Senja, Hujan, dan Cerita yang telah Usai.
Boy menulis buku SUM ini selama setahun. Ia menjelaskan bahwa, dalam menulis buku, ada buku yang memang dikerjakan selesai dalam satu bulan atau dua minggu, dan ada pula buku yang ditulis "mengalir". "Buku ini merupakan proyek yang saya biarkan mengalir. Jadi, butuh waktu satu tahun," imbuhnya.
Terkait kesibukannya, Boy menjelaskan bahwa ia sedang menunggu terbit bukunya yang kesepuluh, yaitu novel Pada Senja yang Membawamu Pergi. Sekarang, novelnya ini sudah berada dalam tahap editing.
"Bagi saya, menulis itu perkerjaan. Kalau misalnya kita bekerja otomatis setiap hari kita melakukan. Sama saja dengan kita bekerja di kantor berarti kita harus ke kantor setiap hari," jelasnya terkait produktifitasnya dalam menulis.
Boy menjelaskan, dalam menulis, ia tidak memerlukan tempat dan waktu khusus. Terkadang, dalam sehari, ia tidak menulis naskah buku dan hanya menulis di media sosial. Boy mencontohkan dengan gagasan satu kalimat yang ditulisnya sebagai status di Facebook. Dalam beberapa hari, gagasan satu kalimat itu bisa berkembang menjadi satu cerpen atau malah menjadi ide novel. "Jadi, tiap hari itu, saya usahakan menulis," tutupnya.
Penulis: Fakhruddin Arrazzi
Komentar (0)