"Kebebasan individu dan kesalingtergantungan keduanya penting dalam hidup bermasyarakat." (Mahatma Gandhi)
"Kami yang jauh kami yang terlupakan." Ungkapan tersebut menjadi menarik, dikarenakan perasaan-perasaan serupa ini sering muncul tatkala seseorang atau sekelompok orang merasa tidak mendapatkan perhatian lebih. Kalimat serupa ini sering ditemukan pada anak-anak, orang-orang pedalaman di daerah pelosok Indonesia.
Pada tabiatnya, seseorang yang cenderung lebih dekat memang akan mendapat perhatian cukup, dibandingkan yang jauh. Tak jauh berbeda dengan itu, dari kenyataan yang ada di masyarakat tersebut pulalah kita beranjak pada persoalan kampus cabang dan kampus pusat. Sebagian besar institusi pendidikan di Indonesia pasti memiliki kampus cabang, baik yang berstatus negeri maupun swasta.Seperti Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Trisakti, dan lainnya. Tentu saja semua institusi pendidikan yang memiliki kampus cabang tersebut memiliki berbagai tujuan pendiriannya.
Seperti pendirian kampus cabang Universitas Airlangga di Banyuwangi yang sempat menuai penolakan dari Universitas 17 Banyuwangi karena dianggap bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2011 tentang penyelenggaraan program studi di luar domisili perguruan tinggi. Padahal tujuan dari pendirian kampus cabang tersebut untuk memenuhi kuota program studi yang belum terpenuhi di perguruan tinggi asal. Selain itu alasan didirikannya kampus cabang adalah untuk menjangkau pendidikan di daerah-daerah. Pendirian kampus cabang juga merupakan kebijakan di Indonesia untuk memenuhi tuntutan perkembangan pendidikan di tanah air.
Seperti kampus cabang yang ada di beberapa universitas di Indonesia, Universitas Negeri Padang (UNP) merupakan satu dari sekian universitas yang juga memiliki kampus cabang. Ada 6 kampus cabang milik UNP yang terletak diberbagai daerah di Sumatera Barat. Kampus cabang jurusan Psikologi di Bukittinggi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Cabang UPP III Bandar Buat, Kampus Cabang jurusan Pendidikan Luar Biasa di Limau Manih Padang, dan Kampus II UNP Lubuk Buaya.
Pada dasarnya, dalam berkreatifitas tidak ada batasan, sekalipun tertaut oleh jarak. Namun, keterbatasan sarana berupa fasilitas pendukung, dapat menghambat ide kreatif tadi. Seperti halnya pada mahasiswa yang berada di kampus cabang. Mereka punya berbagai cara dalam berkreasi dan berkarya, sayangnya terhambat dengan keterbatasan dan kurang perhatian. Kreatifitas mahasiswa tentu menjadi sebuah hal yang penting. Maka antara kreatifitas dan sokongan dari universitas haruslah berkesinambungan.
Pernah suatu hari, mahasiswa yang berkuliah di kampus cabang UNP mengeluhkan tentang kurangnya fasilitas untuk berkarya. "Apa harus menunggu ketika kreatifitas yang ingin kami kembangkan terbunuh perlahan lalu mati?"
Seperti seseorang yang hiperaktif dikurung pada sebuah ruang kosong, gelap tanpa apa-apa. Seseorang tersebut akan mati dengan sendirinya. Seperti itu pulalah sebuah karya tanpa disokong oleh fasilitas dan penikmat. Ia akan terkikis dan terhunus oleh waktu.
Mahasiswa adalah makhluk intelektual yang kebanyakan dari mereka sedang menjajaki masa pencarian jati diri. Hal yang lumrah jika mereka acap kali ingin menonjolkan dirinya dengan menunjukkan eksistensi kepada orang-orang di sekelilingnya. Namun ketika apa yang ingin ia capai tidak terpenuhi, maka tak jarang kekecewaan yang bertubi-tubi terkadang menjadi momok yang menakutkan.
Kreatifitas adalah wujud nyata dari sebuah ekspresi diri setiap manusia. Jika dalam berkarya ada pembatasan dari luar tentu saja akan menjadi sebuah permasalahan. Pembatasan potensi pada diri manusia akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri dan tentunya orang lain. Pembatasan itu juga menyebabkan tidak berkembangnya potensi dalam diri seseorang atau yang lebih mirisnya akan mati dalam berkarya.
Mahasiswa-mahasiwa kampus cabang memiliki kreatifitas yang tinggi dalam berkarya. Banyak hal mereka inginkan untuk ditonjolkan dan dikenal dan diketahui oleh sivitas akademika UNP. Seperti kreativitas seni tari Saman milik anak Pendidikan Luar Biasa di kampus cabang Limau Manih yang tampak eksis karena mengisi berbagai acara setiap kegiatan.
Berbagai hal yang ada di lapangan menjadikan mereka harus lebih cekatan dalam mengembangkan segala kreatifitas dan potensi yang mereka miliki. Seperti untuk mengikuti segala organisasi kemahasiswaan yang ada di kampus pusat, mereka yang berada di kampus cabang harus melalui berbagai tantangan baik dari segi jarak maupun waktu. Banyak dari mahasiswa yang mundur mengikuti segala kegiatan kemahasiswaan yang ada di kampus pusat karena jarak yang jauh dan tidak mampu membagi waktu. Begitulah, jarak memang terkadang kejam terhadap sebuah potensi. Dengan begitu, terciptalah mahasiswa-mahasiswa yang hanya berkegiatan "kuliah-pulang kuliah-pulang".
Padahal jika ditilik kembali, mahasiswa-mahasiswa tersebut memiliki potensi yang sangat tinggi. Entah karena kemalasan dan tidak maunya mereka untuk berusaha lebih atau pasrah dengan keadaan yang mereka miliki. Karena pada dasarnya kembali lagi pada individu dan pemikiran masing-masing. Dan tentunya keyakinan akan sebuah kata pamungkas "Tiada usaha yang beroleh sia-sia, karena semua usaha sudah ditakdirkan untuk menuai sebuah pembelajaran."
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!