Empat orang mahasiswa Fakultas Teknik (FT) UNP menyerahkan desain tungku alat perebus ikan teri kepada kelompok nelayan Karang Labuang, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan, Sabtu (19/4). Penyerahan desain tungku tersebut merupakan bentuk penerapan dari Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKM-T) yang mereka ikuti. Mereka adalah Agung Nugroho mahasiswa Teknik Otomotif TM 2012 sebagai Ketua, Sawaluddin Teknik Mesin TM 2011, Ridwan Teknik Mesin TM 2010, dan Indra Wahyu Teknik Mesin TM 2013 sebagai anggota. Desain tungku tersebut bernama "De’ Toll".
Penyerahan dan penerapan De’ Toll juga didampingi oleh dosen pembimbing kelompok PKM-T ini, Donny Fernandez, S.Pd., M.Sc. Ia mengatakan bahwa tidak mudah untuk terjun dan bersosialisasi langsung dengan masyarakat. Untuk itu, mahasiswa perlu keahlian khusus dalam berinteraksi dengan masyarakat. "Saya berharap melalui kegiatan seperti ini masyarakat dapat terbantu dan mahasiswa lain termotivasi untuk membuat PKM," tuturnya, Sabtu (19/4).
Banyak kendala yang mereka hadapi hingga bisa menyerahkan De’ Toll kepada nelayan. Diantaranya kendala saat mensurvei tempat, pembuatan alat, sulitnya meyakinkan masyarakat dalam memperkenalkan alat yang telah dibuat, dan lokasi yang cukup jauh. Tak hanya itu, pemasangan alat di lokasi yang tidak sesuai dengan perkiraan dan penyerahan alat perebus ikan teri juga mengalami kendala. "Walaupun demikian, kendala-kendala tersebut tidak menghalangi kami," ujar Agung Nugroho, Sabtu (19/4).
Agung juga menjelaskan bahwa untuk pengerjaan dan pembuatan alat perebus teri ini dibutuhkan waktu sekitar satu bulan setengah. Bahan yang digunakan, seperti plat stainless steel, besi siku (30x30 cm), besi strip (1/4x2 cm), stalbus (20x20 cm), mur dan baut stainless (12x1 ½ inchi), papan dengan panjang 4m x 2 helai, jaring peniris, dan lain-lain. "Dengan bahan-bahan inilah kami dapat menyelesaikan alat perebus teri ini," ungkapnya.
Lebih lanjut, Agung menambahkan kelebihan dari alat ini adalah mampu menampung minimal 24 dan maksimal 31 keranjang teri. Dimana panjang alat ini 205 cm dengan lebar 85 cm. Alat ini mampu bertahan selama satu tahun tergantung pada pemakaiannya. Sedangkan alat yang lama hanya mampu menampung 18 keranjang dan penggunaannya pun terbatas, sekitar empat bulan. "Alat ini lebih efektif dan efisien jika dipergunakan dengan baik," jelasnya.
Janawir (53 tahun) sebagai ketua kelompok nelayan Gosong yang menerima alat tersebut mengungkapkan bahwa alat tersebut sangat membantu dalam proses pengolahan teri. Dibandingkan dengan alat yang digunakan sebelumnya, alat ini lebih efektif dan dalam satu kali perebusan pun hasilnya lebih banyak. "Terima kasih kepada mahasiswa atas bantuannya dan juga kepada UNP yang telah memfasilitasi," tutupnya, Sabtu (19/4). Wici, Khadijah
Komentar (0)