"Pramoedya Ananta Toer, sosok yang berpegang teguh dalam memberi penyadaran tentang bahaya penindasan dan penderitaan akibat perang, tentang moral dan harga diri," ujar Prof. Dr. Koh Young Hun, Chairman of Global Association of Indo-Asean Studies, Korea, sebagai pemateri dalam kuliah umum di Ruang Serba Guna Pascasarjana UNP, Jumat (11/2). Sebagian besar karyanya menyuarakan perlunya memberontak dari tatanan yang tidak adil. Penjajahan dan perampasan hak adalah sesuatu yang harus dilawan. Karena ketidakadilan merupakan produk dari struktur, maka struktur itu juga harus dilawan.
Penyadaran akan pentingnya harga diri digambarkan Pram, panggilan akrabnya, dalam novel Bumi Manusia. Buku yang diterbitkan dalam 33 bahasa ini menggambarkan bagaimana keadaan pemerintahan kolonialisme Belanda pada saat itu, serta betapa pentingnya belajar. Seperti halnya Nyai Ontosoroh, salah sorang tokoh dalam buku itu, berpendapat bahwa untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar.
Tak hanya tentang pemikiran-pemikiran Pramoedya, kuliah umum dengan topik "Impian dan Kenyataan dalam Dunia Pengkaryaan Pramoedya Ananta Toer" juga membahas tentang penghargaan yang diterima oleh pria kelahiran tahun 1965 ini. Sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia inipun telah mendapatkan banyak penghargaan dari dunia internasional. Seperti halnya Ramon Magsaysay Award dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995 yang dipandang hanya pantas, dan patut diberikan kepada seseorang yang berjiwa besar, punya integritas, bercita-cita luhur dan agung, sarat idealisme, kaya gagasan besar, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang asasi: kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Afdal
Komentar (0)