Diangkatnya Achmad Badaruddin, akrabnya AB, menjadi Sekretaris Umum Majelis Perwakilan Mahasiswa Universitas Negeri Padang (MPM UNP) untuk periode 2011, 5 November lalu, berbuntut kepada organisasi yang digawanginya di tingkat fakultas, Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (BPM FIP) periode 2010. Sejak pengunduran diri AB, 23 Oktober lalu, badan legislasi di fakultas tersebut kocar-kacir mencari pemimpin baru. Untuk mengisi kekosongan jabatan, diangkatlah Nur Nofriani S sebagai Ketua BPM sementara menggantikan AB. Padahal sejak awal Oktober, Nur beserta sembilan pengurus BPM lainnya telah diberi surat Pemberhentian Antar Waktu oleh AB ketika menjabat. Penentuan pemimpin BPM selanjutnya pun semakin rumit. Beberapa waktu kemudian, Adriyan Syafrida, sebagai sekretaris BPM diangkat menjadi ketua sementara. Ia pun menghadapi kendala di sana sini. "Semenjak kepergian (pengunduran diri_red) AB, sekarang urusan-urusan dengan pihak fakultas pun tidak jelas, ungkapnya, Rabu (8/12). Ditemui di sekretariat MPM pada Selasa (23/11) lalu, AB menjelaskan pengunduran dirinya menyangkut permasalahan pribadi dan perkuliahan. Awalnya ia memang tidak akan terlibat lagi pada organisasi mahasiswa, Namun tiba-tiba saya tertarik mendaftarkan diri pada MPM, jelasnya, Jumat (3/11) lalu di sekretariat Ganto. Ia mengaku, sebelum menjabat sebagai Ketua BPM, beberapa bulan ia sempat duduk pula di Badan Eksekutif Mahasiswa UNP periode 2010 sebagai Sekretaris Menteri Pengabdian Masyarakat. Selain itu, saat ini ia pun tergolong anggota aktif pada Unit Kegiatan Wadah Pembinaan dan Pengembangan Sosial Politik (UK WP2SOSPOL) UNP. Beberapa teman menodong saya, jangan-jangan besok AB mencalonkan diri jadi Ketua BEM atau MPM UNP, jelasnya sambil tertawa. Ketika mendaftar ke MPM, surat pemberhentian AB dari BPM belum dikeluarkan oleh Dekan FIP. Status AB waktu itu masih menjabat Ketua BPM. Saya pikir surat pengunduran diri saya masih diproses, jelas AB. Ia pun mendaftarkan diri dan MPM terkesan tidak mempermasalahkan. Setelah tahap verifikasi bahan, barulah SK Dekan keluar. Namun Nispu Mabrur, Ketua MPM periode 2010, membantah dan tidak akan menerima AB jika waktu pendaftaran AB masih menjabat Ketua BPM FIP. MPM menerima surat rekomendasi dari HMJ Bimbingan dan Konseling serta SK Dekan sejak awal mendaftar, jelasnya. Nispu mengaku, memang waktu itu kondisi MPM pun kritis. Awalnya keikutsertaan AB menjadi Ketua BPM FIP, menurut Edo Andrefson, Sekretaris Jenderal BEM UNP, merupakan salah satu langkah menggiatkan organisasi yang dinilainya memprihatinkan. AB di mata Edo, adalah sosok seorang teman yang baik, memiliki pemikiran bagus ketika berdiskusi. Namun, setelah AB keluar dari BEM UNP dan BPM FIP, kemudian menjabat Sekum MPM, tentu menimbulkan tanda tanya besar. Komitmen dan orientasi AB untuk organisasi kurang jelas, kata Edo, Rabu (8/12) lalu. Padahal, tambahnya, komitmen itu menjadi poin utama bagi seorang aktivis yang bergerak pada organisasi kampus. Di tempat terpisah, Pembantu Dekan III FIP, Dra. Setiawati, M.Pd, mengaku terkejut dengan pengunduran diri AB waktu itu. Sebelumnya Estiawati menerima surat tembusan yang berisikan kejelasan sekretariat ormawa dan musala di FIP tertanggal 22 Oktober dari AB. Namun belum sempat ditanggapi, surat pengunduran AB sudah diterimanya. Saya menasihati AB agar bersabar, karena FIP sedang membangun, katanya, Selasa (23/11). Namun beberapa waktu kemudian AB telah menjadi Sekretaris Umum MPM. Saya berpikir positif saja, ungkap Estiawati. Nova*, Salim next12
Komentar (0)