Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) sudah tiga tahun berjalan. SM-3T adalah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang bertujuan untuk menjawab tantangan pendidikan sekaligus melakukan percepatan pembangunan berbasis pada penyiapan pendidikan bermutu bagi seluruh putra-putri bangsa yang berada di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Universitas Negeri Padang (UNP) ikut berpartisipasi untuk menghasilkan calon guru unggul dan profesional melalui program ini. Beberapa alumninya sudah ada yang menyelesaikan Program Rintisan Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Berkewenangan Tambahan (PPGT) dan bahkan sudah ada yang mulai mendaftarkan diri sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Sebagian ada juga yang memilih untuk mengajar di daerahnya masing-masing.
Seorang diantaranya adalah Yulnida Ardia, Jurusan Geografi. Siang itu, Yulnida baru saja menerima surat permohonan mendaftar CPNS. Ia hendak mendaftar CPNS di daerah sasarannya dulu, Simeuleu, Aceh. Yulnida mengaku mendapat banyak pengalaman berharga setelah mengikuti program SM-3T. Salah satunya ketika ia memilih untuk juga mengajar ibu-ibu buta huruf. "Selama di daerah, saya dilatih bagaimana untuk tidak sekedar mengajar," ujarnya, Senin (21/10).
Meskipun tidak ada kejelasan yang pasti untuk langsung diterima menjadi PNS. Bahkan setelah mengabdi selama setahun dan menyelesaikan kuliah PPGT, Yulnida tetap merasa senang bisa menjadi bagian dari SM-3T. Saat ini ia hanya bisa menaruh harapan agar ke depannya para alumni SM-3T bisa mendapatkan kejelasan. Akan tetapi, mereka mengatakan tetap ingin mengajar, meskipun belum diangkat menjadi PNS. "Ya, untung-untung bisa menjadi PNS," ujar Yulnida.
Berbeda dengan Yulnida, program ini baru akan dijalani Adelia Aryani Putri, salah seorang peserta yang lulus SM3T angkatan ke-3 di Pidie Jaya, Aceh. Peserta yang pada awalnya enggan menjadi guru ini berpendapat bahwa program SM-3T ini merupakan program yang sangat bagus karena mencetak guru-guru super handal dan bertanggungjawab. Itulah yang merubah pikirannya. "Pendidikan bukanlah suatu bisnis, tetapi merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab," tegasnya. Dia berharap agar guru Indonesia menjadi pribadi yang lebih kuat untuk mengabdi pada negaranya sendiri dan dunia. "Guru lebih dari sekedar mengajar di dalam kelas tetapi mengubah dunia menjadi lebih baik," ungkapnya, Minggu (15/9).
Drs. H. Hambali, M.Kes, selaku ketua SM-3T angkatan ke-3 menegaskan bahwa program SM-3T ini memang bertujuan untuk mencari guru-guru profesional yang mempunyai semangat dan kemampuan untuk mengubah pendidikan bangsa ke arah yang lebih baik lagi. Selain itu, ia juga menjelaskan sekaligus menjawab pertanyaan peserta mengenai kejelasan SM-3T selama ini. Peserta yang selesai menjalani SM-3T akan melanjutkan ke PPGT yang diasramakan dan diberi beasiswa selama 6 bulan untuk PGSD dan PG PAUD, dan 1 tahun untuk peserta kependidikan lainnya. Selesai PPGT mereka akan diundang kembali ke daerah sasarannya. "Biasanya mereka diharapkan kembali. Kalau menolak maka mereka sendiri yang akan rugi" jelasnya, Selasa (26/11). Ia mengharapkan peserta SM-3T ini sukses di lapangan dan akan menjadi calon guru super selanjutnya. Duni, Ana*next12
Komentar (1)