Suasana Pekan Kritik Sastra yang diadakan HMJ Sastra Indonesia Unand sempat riuh ketika salah seorang peserta menyatakan bahwa sebuah karya sastra tidak butuh pengantar. Sebagian besar peserta di ruang seminar Fakultas Ilmu Budaya itu, terpingkal-pingkal mendengar pernyataan emosional ini. "Biarlah pembaca menafsirkan sendiri apa yang dibacanya, tanpa ada pesan menggurui dalam kata pengantar sebuah novel," ujarnya, Jumat (22/11). Hal ini disampaikan peserta tersebut saat kritik sastra terhadap novel Persiden karya Wisran Hadi.
Heru Joni Putra, salah seorang kritikus Pekan Kritik Sastra tersebut, juga mengemukakan hal senada. Heru mengkritisi tentang kata pengantar yang ditulis Sapardi Joko Damono dalam novel tersebut. Menurutnya Sapardi tidak mampu menangkap apa yang dimaksudkan Wisran di dalam novelnya. "Karena dia sama sekali tidak tahu tentang budaya Minang," ucapnya salah satu nominator Tempo Institute ini.
Pernyataan Heru juga diaminkan oleh kritikus lainnya, Dr. Syafril, M.Si. Menurutnya Sapardi memang tidak tepat untuk mengisi kata pengantar dalam novel ini. Tetapi hal ini bukan salah Sapardi, melainkan salah penerbit. Syafril memandang penerbit hanya ingin memanfaatkan nama besar Sapardi untuk mendongkrak penjualan novelnya. "Hal ini biasa dilakukan penerbit-penerbit di Indonesia yang sengaja memasukkan nama-nama orang terkenal untuk mendongkrak penjualan produknya," ujar Syafril.
Seperti diberitakan sebelumnya, HMJ Sastra Indonesia Unand mengadakan Pekan Kritik Sastra Kamis-Jumat (21-22/11). Karya yang dikritik antara lain Odong-odong Fort de Kock (antologi puisi) karya Deddi Arsya, Jejak Luka (antologi cerpen) karya Azwar Sutan Malaka, Kupu-kupu fort de Kock (novel) karya Maya Lestari, Persiden (novel) karya Wisran Hadi, dan Karnoe (novel) karya Jombang Santani Khairen. Semua karya tersebut merupakan tulisan sastrawan Sumatera Barat. Sastra*
Komentar (0)