Dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 September, Duta Aksara bersama Pemuda Sumatera Barat mengadakan Talkshow Nasional, Sabtu (14/9). Topik dari talkshow ini adalah Perkembangan Indonesia di Bidang Pendidikan, Bahasa Lisan, dan Tulisan Pasca Berakhirnya Dekade Pemberantasan Buta Aksara yang Ditetapkan UNESCO. Talkshow ini menghadirkan tiga orang narasumber, di antaranya Hasbi, SS. MEdM. (Narasumber Utama), Afri Meldam, SS. (Duta Bahasa Nasional), dan Zelfeni Wimra (Penulis Nasional).
Acara yang berlangsung di samping Toko Buku Sari Anggrek, jl. Permindo, Padang ini diikuti sekitar 150 orang peserta. Sebagian besar pesertanya adalah mahasiswa dari universitas yang ada di Sumbar. Meski demikian ada juga satu dua dosen yang menghadiri acara ini.
Menurut Ketua Pelaksana, Martga Bella Rahmimi, acara ini diadakan untuk memperkenalkan Hari Aksara kepada masyarakat. Tujuannya supaya orang tahu bahwa membaca itu dimulai dari mengenal huruf. Dengan demikian diharapkan bisa mengurangi buta aksara. "Mengenal huruf itu penting," ungkapnya, Sabtu (14/9).
Selanjutnya perempuan yang lebih akrab dipanggil Mimi ini juga menjelaskan rangkaian acara dalam peringatan Hari Aksara. Ada tiga jenis acara yang mereka adakan, yaitu talkshow, bagi-bagi buku, dan lomba nge-tweet. "Untuk lomba tweet akan diumumkan malam ini," ujar gadis yang juga merupakan Duta Baca Sumbar ini.
Veronika Julia Putri, salah seorang peserta talkshow mengaku mendapat informasi acara dari media sosial. Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra UNP ini tertarik untuk ikut karena talkshow membahas tentang aksara. Sedangkan dia sendiri merupakan salah seorang anggota dari sebuah komunitas 5 Aksara. "Karena ada kaitannya dengan aksara, saya pun tertarik untuk ikut talkshow ini," tuturnya.
Kemudian salah seorang narasumber, Hasbi, SS. MEdM. juga turut berkomentar mengenai acara. Ia mengungkapkan acara ini memang perlu untuk terus diadakan. Beliau menilai, peringatan hari aksara bisa menimbulkan kesadaran untuk membaca. Menurutnya minat baca mahasiswa masih rendah. Hal ini terjadi karena dari kecil anak tidak dimotivasi untuk banyak membaca. Sewaktu kecil anak lebih cendrung dibiasakan untuk mengahafal. Kebiasaan ini akan mematikan kreativitas dan rasa ingin tahu seseorang. "Membaca itu diawali dengan rasa ingin tahu. Kalau rasa ingin tahu tidak terbiasa dari kecil, bagaimana kita mau hobi membaca," terangnya.
Ia juga menilai kurangnya minat baca berpengaruh terhadap produktivitas menulis mahasiswa. Produktivitas mahasiswa sekarang lebih rendah dari mahsiswa dulu. Dulu Indonesia punya mahasiswa yang produktif dalam menulis, tapi sekarang tidak lagi. "Mahasiswa sekarang tidak seproduktif dulu," lanjutnya
Komentar (0)