Ganto.co - Sejumlah mahasiswa Vokasi Program Studi Pengindraan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (PJSIG) Universitas Negeri Padang (UNP) turun langsung membantu membersihkan rumah warga yang terdampak banjir dan galodo di RT 005/RW 001 Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Rabu (17/12). Berdasarkan data sementara, terdapat sekitar 52 hingga 53 kartu keluarga yang terdampak banjir di daerah ini.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa menargetkan membersihkan sekitar empat hingga lima rumah, dengan memprioritaskan rumah yang masih ditempati pemiliknya. Mengingat bencana yang telah berlangsung sekitar 16 hari, tim lebih memfokuskan bantuan kepada warga yang rumahnya belum tersentuh pembersihan.
Rizky, salah seorang warga terdampak banjir, mengatakan rumahnya mulai dibersihkan oleh mahasiswa sekitar pukul 13.30 WIB. Ia mengaku sangat terbantu dengan kehadiran mahasiswa dan pihak UNP.
"Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa dan pihak UNP. Kalau membersihkan sendiri, mungkin seminggu baru bisa selesai," ujarnya.
Ia menjelaskan mahasiswa datang dengan membawa peralatan kebersihan sehingga proses pembersihan berjalan lebih cepat. Namun, alat berat baru sekali diturunkan karena saat ini masih difokuskan pada pembersihan mushala. Selain itu, keterbatasan air bersih masih menjadi kendala bagi warga sehingga beberapa wilayah masih belum dialiri PDAM.
"Kalau sudah selesai, baru digeser ke bagian bawah. Masalahnya masih ada aliran yang ditutup, jadi lumpurnya belum bisa mengalir dengan lancar," jelasnya.
Lestin, mahasiswa Vokasi Program Studi Pengindraan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (PJSIG) Universitas Negeri Padang (UNP), menyampaikan bahwa sebanyak 69 mahasiswa diterjunkan untuk membantu membersihkan rumah warga terdampak banjir dan galodo.
"Kami turun ke lapangan untuk membantu membersihkan rumah warga. Sistemnya berpindah-pindah, jika satu rumah sudah bersih, kami lanjut ke rumah lainnya," katanya.
Asisten Dosen Pengindraan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (PJSIG), Indah Fultriasantri, mengatakan tidak semua warga terdampak dapat mengungsi di posko yang disediakan pemerintah.
"Sebagian warga mengungsi di posko, tetapi ada juga yang tidak kebagian, sehingga sementara tinggal di rumah kerabat. Itu pun tidak bisa dipastikan sampai kapan," tuturnya.
Ia menambahkan tingkat kerusakan rumah warga cukup parah dan membuat masyarakat masih khawatir akan kemungkinan hujan susulan.
"Melihat kondisi lumpur seperti ini, rasanya sulit dibayangkan. Mudah-mudahan tidak ada hujan susulan karena warga masih waswas," harapnya.
Komentar (0)