Ganto.co - Salah satu warga Jorong Kubu di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, mengeluhkan ketimpangan penyaluran bantuan pascabencana banjir bandang. Keluhan itu disampaikan kepada reporter Ganto pada Sabtu (6/12) di lokasi pengungsian Jorong Kubu. Warga menilai bantuan lebih cepat mengalir ke Jorong Labuah, sementara Jorong Kubu baru menerima sisanya.
Banjir bandang yang terjadi pada Jumat (28/11) menerjang tiga jorong yaitu Nagari, Labuah, dan Kubu yang membuat banyak warga Jorong Kubu terpaksa mengungsi. Siska, salah satu warga, menjelaskan bahwa mereka menghabiskan empat hari pertama di masjid sebelum dipindahkan ke area parkir pasar.
"Kami mengungsi empat hari di masjid, lalu pindah ke area parkir pasar. Itupun setelah beradu mulut dengan wali nagari supaya tempat ini dijadikan lokasi pengungsian," ujarnya.
Selain kehilangan rumah, warga menghadapi minimnya bantuan resmi. Menurut Siska dan Epi, distribusi bantuan lebih banyak diarahkan ke Jorong Labuah, sementara Jorong Kubu hanya mendapat sisa penyaluran.
"Distribusi bantuan lebih banyak ke Labuah, kami hanya dapat sisanya. Dari pemerintah belum ada bantuan; bantuan sejauh ini dari patungan warga dan donasi masyarakat luar. Respon wali nagari juga lambat," ungkap mereka.
Siska menyebutkan air minum, bantal, selimut, dan kasur masih terbatas, bahkan sekitar 25 pengungsi mengalami sakit.
"Di sini ada 25 orang yang sakit. Kami masih butuh obat-obatan, pakaian, dan perlengkapan istirahat seperti bantal, selimut, dan kasur. Air bersih juga minim, kami bergantung pada masjid untuk kebutuhan dasar," jelasnya.

Sekretaris Nagari Sungai Batang, Ade, mengonfirmasi adanya empat warga meninggal dunia akibat bencana, serta satu warga Jorong Labuah yang masih hilang. Ia juga menyebut satu warga meninggal karena sakit saat berada di pengungsian.
"Data terakhir, warga yang mengungsi di Jorong Labuah berjumlah 634 jiwa, termasuk 134 KK yang tercatat di posko dan sekitar 75 KK yang mengungsi ke rumah warga dan pesantren. Jorong Nagari mencatat 206 KK, dan Jorong Kubu 30 KK," tuturnya.
Ade mengatakan bahwa distribusi bantuan berasal dari posko induk lalu disalurkan ke posko masing-masing jorong. Namun kelancaran penyaluran sangat bergantung pada posko di tiap jorong.
"Bantuan dari luar mulai berdatangan dua hari setelah kejadian, tapi bantuan dari nagari masih belum memadai sehingga warga sempat mengandalkan swadaya. Alur bantuan tetap dari posko induk ke posko jorong, lalu diteruskan sesuai mekanisme masing-masing jorong," katanya.
Ade menegaskan perlunya perbaikan infrastruktur yang rusak akibat banjir.
"Kerusakan akibat banjir bandang mencakup banyak rumah warga serta lahan pertanian, yang menjadi sektor paling terdampak," tutupnya.
Komentar (0)