Sementara itu, Wali Kota Padang Hendri Septa menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menguji sistem tanggap darurat sekaligus menilai kesiapan infrastruktur tangguh gempa di Kota Padang.
"Kegiatan ini mengingatkan kita kembali bahwa sirine pertama menandakan gempa, dan sirine panjang berikutnya menandakan potensi tsunami dalam waktu sekitar 20 menit. Berdasarkan simulasi BMKG, gelombang tsunami dapat mencapai tinggi antara 5 hingga 8 meter," kata Hendri.
Ia menyampaikan, laporan dari camat dan lurah menunjukkan bahwa sebagian besar titik kumpul warga, seperti di Teluk Kabung Bungus, berada di ketinggian sekitar 15 meter di atas permukaan laut. Meski relatif aman, pemerintah kota tetap akan mengusulkan pembangunan shelter tambahan ke BNPB dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
"Kami akan pelajari kembali titik-titik rawan untuk membangun shelter baru. Saat ini, setiap kelurahan memiliki sekitar dua ribu titik evakuasi sementara yang telah dipetakan dandisosialisasikan kepada masyarakat," ucapnya.
Hendri menambahkan, Pemkot Padang berencana melaksanakan kegiatan serupa minimal satu kali dalam setahun, terutama di kawasan pesisir yang paling berisiko.
"Kegiatan seperti ini penting untuk meningkatkan awareness masyarakat. Kami ingin setiap warga tahu harus ke mana saat bencana terjadi. Kesiapsiagaan dan kepedulian menjadi kunci utama menyelamatkan diri," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Harfan, perwakilan dari BMKGPusat, menjelaskan bahwa latihan ini termasuk kedalam kegiatan Indian Ocean Wave Exercise (IOWAVE) yang diselenggarakan serentak di 28 negara di kawasan Samudra Hindia, termasuk Indonesia. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menguji kesiapan sistem peringatan dini tsunami yang dimiliki setiap negara peserta.
"Kami menyiapkan skenario gempa berkekuatan 8,8 magnitudo yang terjadi di perairan Siberut, Sumatera Barat. Berdasarkan pemodelan, gempa tersebut dapat memicu tsunami dengan ketinggian 5 hingga 11 meter yang akan tiba di Kota Padang dalam waktu sekitar 20 menit," terang Harfan.
Ia menjelaskan bahwa simulasi ini dirancang agar seluruh pihak terkait dapat melatih kesiapsiagaan mereka sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.
"Kegiatan ini melibatkan BMKG, BNPB, BPBD, Basarnas, serta seluruh perangkat pemerintah daerah. Tujuannya agar koordinasi berjalan cepat dan tepat ketika bencana sungguh terjadi. Jadi bukan hanya melatih warga, tapi juga menguji sistem peringatan dini dan rantai komunikasi antarlembaga," tambahnya
Komentar (0)