Menanggapi hal tersebut, Wirza menambahkan bahwa kemampuan mengenali diri merupakan langkah awal dalam membangun kesehatan mental yang kuat. Ia menyebut bahwa mahasiswa perlu menyadari tanda-tanda stres dan segera mencari cara untuk menanganinya sebelum berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih berat.
Pada sesi kedua, Neny Andriani, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari RSJ Prof. HB Saanin Padang, memaparkan materi mengenai trauma dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Ia menjelaskan bahwa trauma merupakan kondisi nyata yang dapat meninggalkan luka emosional mendalam serta memengaruhi perilaku seseorang dalam jangka panjang. Karena itu, masyarakat perlu menumbuhkan empati dan menghentikan stigma terhadap individu yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya.
"Trauma itu nyata. Kalau tidak pernah kita lepaskan, ia akan bersarang dalam diri dan membuat kita tidak nyaman, bahkan terhadap diri sendiri. Jangan pernah menertawakan atau meremehkan orang yang sedang berjuang dengan mentalnya. Mereka tidak ingin terlihat lemah, mereka hanya butuh didengar dan diterima," tegasnya.
Melalui kedua sesi ini, peserta seminar memperoleh wawasan teoretis mengenai kesehatan mental sekaligus pembelajaran praktis tentang cara menjaga keseimbangan hidup, menerima diri, dan berani berbicara tentang kesehatan mental tanpa rasa takut terhadap stigma sosial.
Komentar (0)