Ganto.co - Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Barat (Sumbar) menggelar bedah buku "Gaza Tak Pernah Sunyi" karya Hardi, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (UNAND), di Aula Kantor Gubernur Sumbar, Sabtu (4/10). Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri, yaitu Dr. Elly Delfia, S.S., M.Hum., dan Ragdi F. Daye, serta moderator yaitu pegiat literasi Ulul Ilmi Arham.
Dalam pemaparannya, Hardi menjelaskan bahwa buku "Gaza Tak Pernah Sunyi" ditulis sebagai bentuk refleksi terhadap krisis kemanusiaan di Palestina yang terus berlanjut. Ia menyebut Gaza sebagai simbol perjuangan manusia untuk mempertahankan martabat di tengah kekerasan dan ketidakadilan.
"Saya tidak sedang bicara politik, tetapi tentang kemanusiaan yang diuji. Gaza adalah tentang manusia yang bertahan dalam luka dan tidak menyerah pada ketakutan," ujarnya.
Hardi juga menuturkan bahwa proses penulisan buku ini dilandasi oleh keresahan pribadinya terhadap Gaza. Melalui karya ini, ia berusaha menerjemahkan penderitaan itu menjadi narasi yang menggugah kesadaran pembaca.
"Saya menulisnya dengan perasaan campur aduk antara marah, sedih, dan kagum pada keteguhan mereka. Buku ini saya harap bisa menjadi jembatan kecil agar kita tidak hanya melihat Gaza sebagai berita, tapi sebagai cermin kemanusiaan," tambah Hardi.
Sementara itu, Dr. Elly Delfia menyoroti sisi sosiologis dan kemanusiaan dalam karya tersebut. Ia menilai buku "Gaza Tak Pernah Sunyi" tidak hanya menyajikan kisah perang, tetapi juga menggambarkan paradoks antara keheningan dan suara penderitaan manusia.
"Gaza dalam buku ini bukanlah tempat yang benar-benar sunyi. Keheningannya justru diisi oleh dentuman bom, tangisan anak-anak, dan seruan kemanusiaan yang tak henti-henti," jelasnya.
Dr. Elly juga menambahkan bahwa karya tersebut menunjukkan bagaimana sastra berperan dalam menumbuhkan empati dan kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
"Penulis mengajarkan bahwa rasa simpati dan empati tidak mengenal batas negara maupun agama. Tragedi di Gaza menjadi cermin bagaimana manusia menolak tunduk pada keputusasaan," ungkapnya.
Ia menilai pendekatan humanistik yang digunakan sejalan dengan fungsi sastra sebagai cerminan realitas sosial.
"Karya ini bukan hanya menyampaikan kisah, tetapi juga memanggil sisi terdalam hati pembaca agar tidak apatis terhadap penderitaan manusia lain," pungkas Elly.
Acara ini dihadiri mahasiswa lintas universitas, akademisi, serta pegiat literasi dari berbagai daerah di Sumbar. Selain sesi diskusi, panitia juga menggelar bazar literasi dan membagikan cendera mata bertema Palestina.
Komentar (0)