Ganto.co – Seruan aksi nasional Indonesia Cemas yang digelar di depan Kantor DPRD Sumatra Barat (Sumbar), Senin (1/9), tidak hanya diikuti mahasiswa. Aksi ini juga melibatkan perwakilan ojek online, masyarakat umum, hingga para guru.
Dalam orasinya, seorang guru menyampaikan keresahan mendalam terkait nasib pendidik di Indonesia. Ia menolak anggapan bahwa guru adalah "beban negara" dan menegaskan peran guru sebagai pilar utama dalam mencerdaskan generasi bangsa.
"Kami menuntut agar nasib guru diperjelas. Sistem pendidikan ini mau dibawa ke mana? Kami bukan kelinci percobaan dari sistem yang selalu berubah-ubah," ujarnya lantang di depan massa aksi.
Ia juga menyoroti dugaan penyelewengan anggaran pendidikan.
"Selidiki, audit, dan kembalikan dana-dana yang dikorupsi. Banyak guru yang tidak digaji berbulan-bulan," tambahnya.
Lebih lanjut, guru tersebut mengungkap kondisi ironis tenaga pendidik. Di tengah kewajiban mendidik anak-anak bangsa, banyak guru yang kesulitan menyekolahkan anak sendiri karena gaji rendah.
"Ada sekolah yang tidak layak, fasilitas kurang, dan guru yang hanya menerima gaji di bawah standar. Padahal semua profesi lahir dari guru," tegasnya.
Menanggapi hal itu, Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Negeri Padang (UNP) menyatakan apresiasinya atas keterlibatan guru dalam aksi. Menurutnya, hal tersebut menegaskan bahwa persoalan pendidikan dan kesejahteraan pengajar sangat mendesak.
"Guru itu pahlawan bangsa. Dari guru lahirlah generasi seperti kita sekarang. Maka ketika ada isu kenaikan gaji DPR, seharusnya gaji guru yang dinaikkan. Faktanya, 74 persen guru honorer masih digaji di bawah UMR, bahkan sekitar 20 persennya di bawah Rp500 ribu. Ini sangat memprihatinkan," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan guru akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan.
"Harapannya DPRD dan pemerintah segera menindaklanjuti, menaikkan tunjangan dan gaji guru. Kalau gurunya sejahtera, otomatis pendidikan anak-anak bangsa akan jauh lebih maksimal," tutupnya.
Komentar (0)