Ganto.co - Unit Kegiatan Infinite Technology (UK-Infitech) Universitas Negeri Padang (UNP) mengadakan webinar Data Science bertajuk "Collaborative Intelegance: How Programmers and AI Can Work Together." Webinar ini diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting, Sabtu (24/5).
Stefanus Hermawan, seorang data scientist hadir sebagai pemateri. Ia membuka pemaparan materi dengan menjelaskan evolusi Artificial Intelligence (AI) yang dimulai pada tahun 2012.
" Terdapat beberapa tahap versi AI, yaitu Perception AI sebagai tahap awal, Generative AI dan Agentic AI tahap yang terjadi di masa sekarang, hingga tahap Physical AI yang akan berlangsung di masa depan, dan Agentic AI yang sudah bisa menjalankan tugas yang diberikan," ungkapnya.
Kemudian, Stefanus menjelaskan bahwa membuat aplikasi game bisa tanpa coding hanya dengan bantuan AI.
"Kita coba buat game kurang dari satu menit, tanpa coding menggunakan tools AI Lovable.dev. Jadi tidak perlu sulit menggunakan bahasa pemograman, tapi hanya pakai kata-kata saja," tuturnya.
Selanjutnya, Stefanus menyoroti pergeseran paradigma yang terjadi saat ini yang mulai masuk ke era hybrid intelligence.
"Hybrid intelligence bukan sekedar tren, tapi paradigma baru yang merupakan gabungan dari kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan. Bukan bersaing, tapi kerja sama atau kolaborasi. Kolaborasi antara kemampuan alami manusia dengan kecepatan dan kepintaran AI," jelasnya.
Lebih lanjut, Stefanus memaparkan kerangka kerja Collaborative Models berdasarkan tingkat keterlibatan manusia dan potensi bahaya dari keputusan AI.
"Ada tiga model kolaborasi, yaitu: Human Out of The Loop, AI bekerja sendiri tanpa perlu konfirmasi dari manusia, lalu Human In The Loop, AI hanya memberi saran tapi manusia yang mengambil keputusan akhir dan Human Over The Loop, AI bekerja otomatis namun ada intervensi manusia jika diperlukan.
Terakhir, Stefanus menyampaikan bahwa AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia akan digantikan oleh manusia lain yang berkolaborasi dengan AI.
"Di masa depan yang bertahan bukan yang paling jago dalam coding, tapi yang paling pintar dalam memanfaatkan AI untuk menyelesaikan masalah," tutupnya.
Komentar (0)