Ganto.co - KABA Festival X yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) dihadiri para pakar yang membedah berbagai dimensi seni pertunjukan, mulai dari tradisi hingga era digital pada Rabu (14/5)
Kusen Alipah Hadi, salah satu pembicara, menyoroti potensi festival-festival warga sebagai platform pertanggungjawaban publik.
"Potensi festival-festival warga sebagai platform pertanggungjawaban publik dan alat untuk menyelesaikan masalah di tingkat lokal. Ia menekankan bahwa kegiatan semacam ini dapat menjadi wadah aktif bagi masyarakat untuk berkontribusi pada ketahanan dan kedaulatan pangan mereka," jelasnya.
Yusril, selaku pembicara kedua, membahas tentang transformasi seni pertunjukan di Sumatra Barat (Sumbar) dari ruang fisik ke ruang virtual.
"Seni pertunjukan tidak hanya sebagai ekspresi estetis, melainkan juga sebagai arsip hidup budaya dan cermin yang memantulkan perubahan sosial," tuturnya.
Ia juga menyoroti bagaimana seni pertunjukan di Sumbar telah beradaptasi, dari tradisi turun-temurun hingga merambah ke ranah digital, mengikuti perubahan nilai dan cara berkomunikasi masyarakat," tambahnya.
Melati Suryodarmo turut menambahkan diskusi dengan menyampaikan pandangannya tentang seni pertunjukan.
"Pandangan saya mengenai seni adalah jejak yang ditinggalkan tubuh dalam ruang dan waktu. Seni pertunjukan bukan sekadar tontonan, melainkan cara manusia mengingat, merasakan, dan merumuskan dunia. Seni pertunjukan telah menjadi wahana penting bagi masyarakat untuk menyampaikan kisah, menjaga ritus, dan memelihara identitas mereka," jelasnya.
Komentar (0)