Ganto.co - Siswa kelas XI Usaha Layanan Wisata (ULW) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Padang mengadakan praktik Makan Barapak sebagai bagian dari pembelajaran Muatan Lokal (Mulok) Keminangkabauan. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi makan bersama yang sudah turun-temurun dalam budaya Minangkabau.
Makan Barapak adalah tradisi makan khas Minangkabau yang menekankan kebersamaan. Peserta duduk bersama di lantai atau tikar tanpa membedakan status sosial, sementara ninik mamak dan tetua adat bertukar petatah-petitih. Tradisi ini diterapkan dalam acara adat seperti pernikahan, kemalangan, dan prosesi lamaran.
Menurut Muswida Yenti, wali kelas sekaligus guru Mulok Keminangkabauan, praktik ini diadakan sebagai bentuk pelestarian budaya yang kini mulai terkikis oleh kebiasaan makan secara prasmanan.
"Banyak anak muda zaman sekarang yang kurang memahami budaya lokal. Tradisi Makan Barapak ini sangat penting, terutama dalam dunia pariwisata. Sebagai siswa jurusan pariwisata, mereka harus bisa memahami dan mempromosikan budaya khas Minangkabau kepada wisatawan yang datang," ujarnya (21/2).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembelajaran budaya tidak cukup hanya dalam bentuk teori. Oleh karena itu, dalam kurikulum Mulok Keminangkabauan, siswa tidak hanya belajar tentang sejarah dan nilai-nilai budaya, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung.
Salah satu siswa yang ikut serta dalam kegiatan ini, Maxel Islando mengungkapkan pengalamannya setelah mengikuti praktik Makan Barapak.
"Pengalaman baru saya rasakan setelah mengikuti praktik ini. Saya melihat adanya rasa kebersamaan, persatuan, serta semakin akrab dengan teman-teman," ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa tradisi Makan Barapak merupakan simbol kebersamaan dalam budaya Minangkabau.
"Saya menjadi lebih memahami tradisi Makan Barapak, yang telah menjadi simbol kebersamaan dalam budaya Minangkabau. Harapan saya ke depan, semoga tradisi ini tetap dikembangkan dan diteruskan untuk generasi emas selanjutnya," tutupnya.
Muswida Yenti berharap agar praktik kebudayaan seperti ini terus diajarkan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SMA, sehingga generasi muda tetap mengenal dan melestarikan adat istiadat Minangkabau.
Komentar (0)