Ganto.co - Jaringan Aktivis & Lembaga Muslimah Muda (JAM) For Islam Kaffah menggelar diskusi daring bertajuk "Ceasefire: Solusi Pembebasan Palestina" melalui platform Zoom Meeting, Sabtu (1/2).
Diskusi ini menyoroti efektivitas gencatan senjata dalam konflik Palestina yang masih berlangsung.
Havivah Mayang Sari, sebagai moderator membuka diskusi dengan menyoroti realitas di lapangan.
"Puluhan ribu rakyat Palestina menjadi korban. Gencatan senjata yang dilakukan hanya memberi ruang sementara bagi mereka, bahkan hanya untuk mengambil sedikit pasokan makanan," jelasnya.
Silvi Nadia H. R., salah satu partisipan, menilai gencatan senjata bukanlah solusi jangka panjang.
"Keputusan gencatan senjata lebih dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, terutama keterbatasan pasokan militer Israel dari Amerika Serikat. Ini berdampak pada dukungan logistik yang biasanya diberikan kepada Israel," ujarnya.
Selanjutnya, Lara Andini menyoroti tujuan Zionis menghapus Hamas hingga ke akar-akarnya.
"Mereka ingin memastikan bahwa Hamas benar-benar lenyap, tidak hanya dari Gaza tetapi juga dari seluruh Palestina," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa di Tepi Barat, rakyat Palestina menghadapi pemusnahan secara sistematis.
"Di sana, mereka diberi ruang gerak seolah-olah bebas, tetapi pada kenyataannya, pembatasan terus diperketat, akses terhadap kebutuhan dasar semakin sulit, dan serangan tetap terjadi," tambahnya.
Pemateri, Ramadani Safitri, menilai akar dari permasalahan ini dan menyoroti dampak sekularisasi dan nasionalisme dalam membentuk pola pikir umat Muslim.
"Penyebab masalah ini bukan sekadar sengketa lahan, melainkan penjajahan oleh entitas illegal, hal ini bukan hanya persoalan Palestina, tetapi juga umat Islam secara keseluruhan," katanya.
Diskusi ini menggarisbawahi bahwa gencatan senjata tidak serta-merta menjadi solusi, melainkan sekadar jeda di tengah konflik yang belum menemukan titik akhir.
Komentar (0)