"Yang memandang buruk itu cuma orang dari luar. Orang sekitar sini, siapa lo siapa gua, nggak peduli," ujar Opet, pemilik usaha kafe payung ceper.
Langit sore Pantai Puruih Padang, Senin (8/4) tampil apik dengan sinar matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Berbagai macam kendaraan lalu lalang di jalan raya depan Kafe Opet, pemilik usaha kafe payung ceper. Disebut payung ceper karena tinggi payung yang digunakan hanya sekitar 1 meter di kawasan Pantai Puruih Padang. Di samping kafenya, telah terkembang 30 payung yang siap untuk diisi oleh pelanggan. Sembari duduk di kursi plastik putih, sesekali Opet mengajak pasangan muda-mudi yang sedang berkendara motor untuk mampir ke kafenya. "Masuaklah diak, masih banyak yang kosong," ajaknya.
Opet telah memulai usahanya sejak 5 tahun lalu sebagai pedagang di kawasan itu, hanya saja baru menjadi pedagang dengan menggunakan payung ceper ini baru dua tahun yang lalu. Pada awalnya, Opet menggunakan tenda biru. Tenda yang menggunakan terpal biru dan dibentuk sedemikian rupa hingga berbentuk sebuah kamar sebagai pendamping usaha kafenya. Namun karena adanya larangan dari pemerintah, maka usaha tenda biru tidak dipakai lagi. Meskipun sekarang masih ada satu-satu pedagang di pinggiran pantai Padang yang tetap menekuni usaha itu.
Peralihan dari tenda biru ke payung ceper membutuhkan biaya yang besar. "Butuh dana hingga 50 juta rupiah. Beli payung, meja, kursi dan penimbunan lahan yang awalnya landai dan penuh bebatuan," jelas Opet. Setiap harinya, ibu tiga anak ini bisa mendapatkan penghasilan minimal 500 ribu rupiah. "Kalau ramai, bisa hingga 1 juta dalam satu hari," ujarnya, Senin (8/4). Opet memasang tarif Rp. 20.000,- untuk pemakaian satu payung dan 2 botol minuman.
Kendati usaha yang sedang digelutinya sekarang mendapat pandangan negatif oleh orang-orang, Opet tetap menjalananinya. Yang memiliki pandangan seperti itu orang luar. "Orang sekitar sini, siapa lo sia gua, nggak peduli," tutur Opet. Bagi penduduk di sekitar pantai, pandangan terhadap keberadaan payung ceper ini sudah lumrah. Karena kebanyakan penduduk di sana juga menggeluti usaha yang sama.
"Uni mengawasi setiap pengunjung yang masuk, kok," jelas Opet. Setiap akan mengantar minuman atau makanan. Kalau ada yang sudah kelewatan batas, akan ditegur. Bagi Opet, pasangan muda-mudi yang sedang berpacaran kemudian melakukan cumbu berpelukan dan lainnya yang masih dibatas wajar, merupakan hal biasa. "Namanya juga orang pacaran," jelasnya. Kecuali kalau sudah sampai membuka pakaian dan melakukan hubungan, baru melewati batas.
Komentar (0)