Ganto.co -Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Padang (UNP) mengadakan rangkaian kegiatan Baralek FMIPA sebagai program kerja (proker) terakhir mereka di Aula FMIPA, Sabtu (14/12).
Salah satu rangkaian kegiatan acara ini yaitu Tabligh Akbar yang mengusung tema "Kepada Jiwa yang Sukar Tenang: Menemukan Ketenangan Hati dengan Al-quran sebagai Pedoman di Era Digital". Kegiatan ini menghadirkan dua orang pemateri, yaitu Atiatul Muqtadir (Fathur) seorang motivator dan Syaikh Ibrahim Ali Hassan merupakan aktivis Gaza.
Ketua Pelaksana, Akmalul Huda mengatakan bahwa kegiatan ini terdiri dari tiga rangkaian yang dilaksanakaan pada 14 dan 15 Desember.
"Rangkaian kegiatan ini terdiri dari tiga yaitu, hari pertama Tabligh Akbar, hari kedua Anugrah Perempuan FMIPA (APF), dan ditutup dengan Grand Closing Ceremony FMIPA Fair," ungkapnya.
Muhammad Rizqi Foma, Gubernur FMIPA UNP menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan proker terakhir dari BEM FMIPA yang bertujuan untuk mengenang kinerja yang telah dilaksanakan selama satu tahun kepengurusan.
"Diharapkan kegiatan ini menjadi keterusan untuk ke depannya. Kegiatan ini mengenang apa yang sudah dilakukan BEM FMIPA dengan penampilan dokumenter selama satu tahun kepengurusan," ungkapnya.
Drs. Ardi,M.Si., Pembimbing Forsia UNP sangat mengapresiasi seluruh rangkaian acara yang diadakan.
"Kegiatan ini sangat penting untuk diikuti karena dapat membentuk mahasiswa yang intelektual, religius, dan peduli sesame sehingga kita dapat mengekspos diri sendiri dan mencermati konten-konten tentang dunia," jelasnya.
Dalam materinya, Syaikh Ibrahim menjelaskan perbedaan dan sebab dalam Alquran tidak ditemukan kata dawa' yaitu obat, melaikankan shifa artinya penyembuh.
"Kalau kita minum obat belum tentu sembuh, sedangkan Alquran shifa dapat menyembuhkan kita," ungkapnya.
Melalui kajiannya Fathur menjelaskan bagaimana kita sebagai anak muda dapat menemukan ketenangan dengan Alquran, anak muda yang biasa disebut strawberry generation sudah sangat jauh dari kondisi ideal anak muda yang seharusnya.
"Kita mulai menormalisasikan hal yang tidak seharusnya, anak muda dianggap generasi lemah. Generasi Z terlihat seperti buah strawberry yang manis akan tetapi sangat mudah hancur," jelasnya.
Lebih lanjut, ia jelaskan solusi dari hal-hal yang dapat membuat hidup menjadi tidak tenang diantaranya, kesedihan berlebihan tentang sesuatu yang telah terjadi dan kekhawatiran terhadap masa depan yang belum terjadi.
"Allah akan membimbing hati hamba-Nya yang ingin berjuang dan orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak ada rasa takut dan sedih yang berlebihan, dia tidak menyesali yang lalu dan bersikap tenang," tutupnya.
Komentar (0)