Ganto.co - Universitas Negeri Padang mengadakan tabligh akbar bersama Dr. (H.C.) Adi Hidayat, Lc., M.A, di Auditorium UNP, Minggu (13/10).
Dalam sambutannya, Rektor UNP Krismadinata Ph.D, menjelaskan Tabligh Akbar ini merupakan implementasi filosofi Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi KItabullah, Syarak Mangato Adaik Mamakai.
"UNP mengimplementasikannya salah satunya dengan Motto UNP "Alam Takambang Jadi Guru", yang sebenarnya sesuai dengan konsep Islam belajarlah dari ayat-ayat kauliyah dan ayat qauniyah atau dari ayat teks dan ayat konteks," katanya.
Lebih dari enam ribu orang hadir dalam kegiatan tabligh akbar Ustadz Adi Hidayat (UAH). Menurut pantauan Ganto, jamaah tabligh akbar bisa menyaksikan kajian di Masjid Al-Azhar UNP dan ruang terbuka depan Rektorat UNP yang ditayangkan di Channel Youtube UNP TV melalui Videotron Rektorat UNP.
Dalam kajiannya, UAH menjelaskan sebuah hadist dari Abu Hurairah RA. "Nabi pernah menyampaikan, Anda akan mendapati. Dalam setiap seratus tahun perkembangan era itu, perubahan waktu itu, para pembaharu, orang-orang hebat, yang visioner, yang akan menghidupkan kembali nilai-nilai ajaran agamanya, Islamic value, sesuai dengan kebutuhan era dan masanya."
Selain itu, UAH memaparkan tentang Islamic Value dalam Menghadapi Indonesia Emas tahun 2045.
"Di titik inilah saya ingin menyambung sambutan Pak Rektor tadi, bagaimana UNP menyambung dan menginspirasi dunia dan menunjukkan pada dunia, di titik inilah perubahan dan peradaban akan dimulai," lanjutnya.
UAH juga mengungkapkan secara konseptual, mendidik generasi emas itu, harus mengoptimalkan tiga potensi pokok yang ada pada diri manusia yaitu fisikal, intelektual, dan spiritual.
"Hal pertama jika ingin meraih kesuksesan adalah dengan menjaga fisiknya, kemudian memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan, dan ketiga menjaga ketakwaan," tuturnya.
Lebih lanjut, UAH juga mengatakan Islam tidak pernah disebut penguasa ketika datang ke suatu tempat.
"Islam itu dan pemeluknya ditempatkan dimanapun dia harus bisa membuka ruang-ruang kebaikan yang mengantarkannya pada kesuksesan. Karena itu, setiap tempat yang dipijak mahasiswa yang digembleng oleh nabi, tempat itu selalu terbuka, mencerahkan, dan mengalami kemajuan."
Terakhir, UAH juga mengatakan orang Minangkabau patut bangga karena ahli hadist ternama memiliki darah dari Minangkabau. "Padang mesti bangga, karena sekian ahli hadist yang memiliki gelar tertinggi, orang yang paham mengerti hadist sampai keruntutan riwayat atau sanad. Orang terakhir yang memiliki predikat itu bukan orang Arab, tetapi orang yang berasal dari Padang, namanya Syekh Yasin Al-Fadani.
Komentar (0)