Sebanyak 200 mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) mengikuti Focus Grup Discus (FGD) antisipasi radikalisme melalui Keterbukaan Informasi yang diselenggarakan oleh Sekolah Keterbukaan Informasi Publik UNP di Pendopo PKM UNP pada Senin, (30/9). Acara ini dihadiri oleh Kasubdit Kontra Naratif Dit Pencegahan Densus 88 AT Polri, AKBP Moh Dofir, S.Ag., S.H., M.H., sebagai narasumber utama.
Rektor UNP, Krismadinata, Ph.D., membuka secara resmi kegiatan ini dengan menekankan pentingnya keterbukaan informasi sebagai salah satu strategi dalam menghadapi isu radikalisme di lingkungan perguruan tinggi.
"Keterbukaan informasi menjadi instrumen vital dalam menjaga kampus dari pengaruh ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila. Mahasiswa harus memahami hal ini dengan baik," ujarnya.
AKBP Moh Dofir dalam materinya menjelaskan tentang antisipasi radikalisme melalui keterbukaan informasi di lingkungan perguruan tinggi.
"Pentingnya pemahaman yang mendalam tentang bahaya radikalisme, serta bagaimana peran mahasiswa dan civitas akademika dalam mencegah berkembangnya ideologi radikal. Keterbukaan informasi adalah kunci. Ini adalah salah satu cara paling efektif untuk mendeteksi dan mencegah radikalisme sejak dini," jelas Dofir.
Selain itu, acara ini juga menghadirkan Dio Gildi, seorang mantan narapidana terorisme, yang berbagi cerita tentang pengalamannya terjerumus ke dalam paham radikal.
"Saya terpengaruh karena minimnya akses terhadap informasi yang benar dan mudahnya manipulasi informasi yang saya terima melalui sosial media," ujar Dio.
Turut hadir dalam kegiatan ini, Wakil Rektor II dan IV, Sekretaris Universitas, Wakil Dekan, Direktur Akademik dan Direktur Kemahasiswaan dan Alumni, Kasubdit Organisasi dan Kesejahteraan Mahasiswa, Kepala Kantor Layanan Informasi Humas dan Protokoler, pimpinan di lingkungan UNP dan serta sejumlah Dosen.
Komentar (0)