Menurutnya, teknologi seperti ChatGPT harus dilihat sebagai alat untuk memperkaya wawasan, bukan menggantikan peran guru dalam menciptakan karya-karya original.
"Sama seperti penolakan awal terhadap media sosial dan teknologi digital lainnya, lambat laun masyarakat akan mulai menerima bahwa teknologi ini bisa menjadi teman, bukan lawan," tambahnya.
Setelah pelatihan ini, Ia berharap para guru di SMKN 1 Lembah Gumanti dapat lebih proaktif menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran dan lebih termotivasi untuk mengembangkan diri. Tindak lanjut dari kegiatan ini mencakup bimbingan daring selama empat minggu, yang telah menghasilkan beberapa tugas dari guru-guru dalam bentuk modul dan media pembelajaran berbasis ChatGPT.
"Kami sangat senang melihat hasil tugas-tugas guru yang sudah mulai memanfaatkan ChatGPT dalam merancang modul dan mengembangkan media pembelajaran," tutupnya.
Komentar (0)