Ganto.co - Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) berhasil meraih hibah nasional Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. Hibah ini diperoleh melalui proposal berjudul "Pengembangan Destinasi Wisata Alam melalui Pemanfaatan Embung dan Paket Wisata Hiking di Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok, Sumatera Barat."
Peresmian destinasi wisata ini dilaksanakan pada 21 Agustus 2024, setelah program PPK Ormawa berlangsung selama kurang lebih dua bulan sebelumnya.
Ketua tim, Ardita Oksyaviani, menyatakan bahwa kesuksesan ini tidak lepas dari bimbingan dosen pembimbing, Dr. Tia Ayu Ningrum, M.Pd, yang terus mendampingi tim sepanjang proses.
"Kegiatan ini dipelopori oleh Bu Tia karena sebelumnya beliau menjadi pembina KKN di Nagari Batu Bajanjang. Saat itu, beliau bertemu dengan Pak Wali Nagari yang bercerita bahwa desa ini memiliki embung yang indah, tetapi sayangnya belum dikelola. Pak Wali berharap ada pengembangan destinasi wisata di Batu Bajanjang, dan dari situlah Bu Tia merencanakan untuk membangun desa wisata di sana," tutur Ardita saat diwawancarai Ganto pada Jumat (06/09/2024).
Dukungan juga datang dari Direktur Akademik dan Prestasi Mahasiswa UNP, Dr. Asep Sudjana Wahyuri, M.Pd, serta Wakil Rektor I, Dr. Refnaldi, M.Litt, yang memberikan apresiasi dan motivasi kepada tim.
Potensi dan Tantangan
Ghina Azelia Rahma, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa proyek ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberi dampak positif bagi ekonomi lokal dan lingkungan.
"Kami melihat Nagari Batu Bajanjang sebagai tempat dengan potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Keindahan alamnya, embung yang elok, dan lokasinya di kaki Gunung Talang menjadikan desa ini sangat cocok untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam," jelas Ghina pada Kamis (05/09/2024).
Namun, dalam pelaksanaannya, Ghina menuturkan tim menghadapi sejumlah kendala.
"Tantangan terbesar kami adalah cuaca. Udara di Batu Bajanjang sangat dingin, dan sering kali hujan. Selain itu, di lokasi embung tidak ada tempat berteduh, yang membuat kami kesulitan melanjutkan kegiatan. Masyarakat setempat juga sibuk berladang, sehingga kami harus menyesuaikan waktu kerja," tambahnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Ghina dan tim yang beranggotakan 13 orang ini mengambil langkah proaktif
Komentar (0)