Ganto.co - Memperingati ulang tahun Republik Indonesia (RI) ke-79, Roehana Project bersama Trend Asia mengibarkan bendera merah putih dan tulisan "Merdeka dari Batubara" di kawasan sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)Teluk Sirih dan sepanjang pesisir pantai di Kota Padang, pada Minggu (18/8).
"Kampanye ini bertujuan untuk mengingatkan kita semua bahwa tidak ada kemerdekaan di udara yang tercemar," kata Jaka HB selaku Ketua Yayasan Roehana Independen Indonesia atau Roehana Project.
Kampanye ini menurutnya semakin mendesak karena melihat kerusakan lingkungan yang eskalasi kerusakannya begitu cepat.
Pihaknya menilai, pencemaran udara sudah berdampak terhadap masyarakat, seperti tingginya angka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), nelayan yang semakin kesulitan mencari ikan di tepian pantai, hingga bertambahnya pengeluaran masyarakat untuk biaya kesehatan dan semacamnya.
"Karena itu end dirty energy harus segera dilakukan. Kami ingin udara bersih dan transisi energi yang berkeadilan," katanya.
Dia juga mengatakan peringatan kemerdekaan memang menjadi momen yang ditunggu-tunggu.
"Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Kalau kita sudah merdeka mengapa kita masih menghirup udara kotor yang akan merusak paru-paru kita sendiri?" ujarnya.
Jaka mengatakan, alasan tim memilih tiga lokasi penerbangan banner karena lokasi tersebut merupakan titik yang mewakili, dan Padang juga terdampak langsung dari energi kotor.
Lokasi penerbangan banner mulai dari PLTU Teluk Sirih yang secara administratif berada di Kota Padang, sebagai sumber pembangkit listrik yang menggunakan batubara, kemudian pantai Air Manis yang melahirkan legenda terkenal Malin Kundang dan kedurhakaannya pada orang tua, terakhir landmark Kota Padang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
Penggunaan batu bara untuk PLTU turut menyumbang racun di udara yang dihirup masyarakat. Sumbar sendiri memiliki dua PLTU yang menggunakan batu bara yakni Ombilin dan Teluk Sirih.
"Itu adalah rangkaian cerita bahwa penggunaan energi kotor yang terus menerus akan membuat kita durhaka pada alam, sebuah cerita horor yang tak berkesudahan," jelas Jaka.
Juru kampanye Trend Asia Novita Indri mengatakan dampak krisis iklim sudah berdampak pada banyak kehidupan saat ini, dan PLTU yang menjadi katalisator kerusakan itu.
"Jika Indonesia serius ingin mencapai komitmennya pada Perjanjian Paris (untuk mengatasi perubahan iklim), maka sudah seharusnya pemerintah serius untuk segera memensiunkan PLTU dan beralih ke energi terbarukan yang berkeadilan," tutupnya.
Komentar (0)