Ganto.co - Tim PKM-RSH (Program Kreativitas Mahasiswa - Riset Sosial Humaniora) Universitas Negeri Padang Tahun 2024 menggelar penelitian yang berjudul "Peran Data Spasial Dalam Integrasi Kearifan Lokal Teteu Amusiat Loga Sebagai Mitigasi Bencana Tsunami Pada Masyarakat Suku Mentawai" di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai, Selasa (25/6).
Tim Tsunami Mitigation Culture diketuai oleh Puja Yulmi Agustin bersama tiga mahasiswa lainnya hang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS), yaitu Willia Dara Rosandy, Aisyah Syafitri, Jefri Nando. Tim ini juga memiliki dosen pendamping, yaitu Risky Ramadhan,S.Pd.,M.Si .
Penelitian yang berlangsung dari tanggal 21 Juni sampai 25 Juni ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana data spasial dapat diintegrasikan dengan kearifan lokal Mentawai sebagai bagian dari peran mitigasi bencana tsunami.
Puja selaku ketua tim mengungkapkan hal pertama yang timnya lakukan adalah pemodelan bahasa tsunami di Kabupaten Mentawai yang merupakan daerah rawan tsunami di Kabupaten Mentawai.
"Selanjutnya kami menyusun rangkaian pertanyaan pada kuesioner AHP dan SWOT yang nantinya akan ditanyakan kepada narasumber, baik dari lembaga BPBD, ahli data spasial, pemerhati budaya mentawai, perangkat desa, kepala sanggar kebudayaan, hingga tetua adat mentawai yang disebut dengan si kerei," jelas Puja.
Hasil penelitiannya, Tim Tsunami Mitigation Culture menemukan bahwa masyarakat Mentawai memiliki mitigasi yang berbasis kearifan lokal tersendiri, yaitu lagu Teteu Amusiat Loga.
Lagu Teteu Amusiat Loga kerap dinyanyikan oleh anak-anak Mentawai saat bermasin gasing dari batang bakau atau manggis hutan juga saat bermasin petak umpet. Namun, mereka yang menyanyikan ini tidak tahu bahwa ada makna dibalik lagu ini.
Kata "Teteu" diartikan sebagai kakek atau juga bisa sebagai gempa bumi. Menurut kepercayaan masyarakat Mentawai yang beraliran Arat Sabulungan, mereka percaya pada roh-roh penguasa alam sejagat. Teteu adalah salah satu penguasa bumi. Jika Teteu murka, maka ia akan mengoncangkan bumi hingga mengeluarkan gempa.
Kerei (tetua adat Mentawai) menjelaskan lagu Teteu Amusiat Loga sudah menjadi bukti nenek moyang mereka menciptakan lagu ini sebagai alarm akan datangnya bencana.
"Mereka menciptakan lagu yang seolah-olah memberitahu kami kalau ketika alam memberikam tanda seperti di dalam lagu, yaitu jeritan tupai, maka berwaspadalah bahwasannya akan datang bencana tsunami."
Lala juga mengharapkan lagu ini tetap dilestarikan oleh generasi muda ke depannya.
"Kami para tetua di Mentawai berharap agar kearifan lokal seperti lagu Teteu Amusiat Loga ini tidak mengalami degradasi di kalangan generasi muda kedepanya," tutupnya.
Komentar (0)