Ganto.co - Penyelenggaraan Festival Adaptasi Film Sastra Indonesia (FAFSI) vol.1, telah selesai diselenggarakan oleh mahasiswa Sastra Indonesia Tahun Masuk (TM) 2021 dan 2022 Universitas Negeri Padang (UNP), di Teater Tertutup Mursal Esten, Selasa (11/6).
Pada hari kedua penayangan film dibuka dengan kata sambutan dari Dr. Zulfadhli, M.A. selaku kepala prodi Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (BASINDODA) serta Dr. Yenni Hayati, M.Hum. sebagai dosen pembimbing pada mata kuliah Ekranisasi dan Transformasi Budaya.
Zulfadhli berharap festival ini dapat diselenggarakan setiap tahun, dan berharap mahasiswa Sastra Indonesia dapat memiliki kompetensi lebih dalam penulisan naskah acara televisi maupun film.
"Mata kuliah Ekranisasi dan Transformasi Budaya ini merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa Sastra Indonesia, dan saya berharap festival film ini dapat diselenggarakan setiap tahun, tidak terhenti di satu volume tertentu. Mahasiswa Sastra Indonesia juga harus memiliki sertifikasi kompetensi menulis naskah acara televisi maupun film," ujarnya.
Dalam sambutannya, Yenni Hayati menyampaikan agar mahasiswa Sastra Indonesia juga mampu mempelajari ilmu lain, seperti pengeditan film. Karena prodi sudah memfasilitasi dengan labor produktif bahasa dan alat-alat yang mencukupi dalam pembuatan film ini.
"Saya ingin mahasiswa Sastra Indonesia juga bisa mengedit film sendiri, karena itu prodi sudah memfasilitasi dengan labor produktif bahasa. Saya berharap ditahun depan labor bahasa tersebut dapat di produktifkan," ujarnya.
Dalam wawancara bersama Ganto Maritsa Nurahmi salah satu panitia acara, mengatakan bahwa festival ini diselenggarakan selama dua hari dan dihadiri oleh 480 lebih penonton untuk empat sesi penayangan pada hari kedua.
"Festival ini diadakan selama dua hari, dengan total 21 film. Penonton tidak hanya dari kalangan dosen dan mahasiswa saja, tetapi masyarakat umum juga menghadiri acara ini. Untuk hari kedua ini, ada 480 lebih penonton dan empat sesi penayangan. Namun, jumlah penonton bisa bertambah lagi seiring penayangan film," tuturnya.
Selanjutnya, Nabila Putri Defia salah satu mahasiswa prodi sastra indonesia mengapresiasi karya dari mahasiswa sastra indonesia ini. Ia juga berharap FAFSI ini dapat berlanjut di volume berikutnya.
"Menurut aku film-film yang ditayangkan tadi keren banget. Film pertama dan kedua ada film sedih, setelah itu film ketiga lucu jadinya menetralisir rasa sedih pada film sebelumnya dan Film yang ditayangkan tidak membosankan. Aku berharap FAFSI ini dapat berlanjut di volume berikutnya dan lebih baik lagi dalam pembuatan filmnya," tutupnya.
Komentar (0)