Setelah berjalan sebanyak dua kali pertemuan, kali ini, Kamis (23/5), kajian rutin Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-UNP diusung oleh UKM Wadah Pengkajian dan Pengembangan Sosial Politik (WP2Sospol) sebagai tuan rumah. Bertempat di ruang sidang Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UNP, acara ini menghadirkan Aldri Frinaldi, SH, M.Hum sebagai pemateri yang sekaligus merupakan Pembina UKM WP2Sospol.
Acara yang berlangsung 2 minggu sekali ini dimulai pada pukul 16.45 WIB. Dalam sambutannya, Ade Andriadi selaku Ketua Umum WP2Sospol mengharapkan melalui kajian rutin UKM ini dapat melepaskan sekat-sekat yang ada diantara UKM se-UNP serta memberi ruang bagi warga UKM untuk saling bertukar informasi.
Mengusung tema: "Mahasiswa dan Pergerakan", Aldri Frinaldi, SH, M.Hum yang juga merupakan dosen Ilmu Sosial Politik UNP ini memaparkan perbandingan gerakan mahasiswa dulu dan sekarang. Ia mengawali pembicaraan sore itu dengan bercerita bahwa pada zaman dahulu, 3 angkatan mahasiswa di ITB berani membakar ijazah. "Mereka para aktivis yakin, bahwa tanpa ijazah mereka tak akan jadi jenazah", sambung nya. Para aktivis zaman dahulu bisa menjadi dosen dan bekerja di instansi pemerintahan meski tanpa ijazah, ulasnya kemudian. Tapi aktivis zaman sekarang, kegiatannya tergantung pada proposal yang disetujui oleh pihak kampus."Jika dikasih uang baru bergerak", selorohnya sembari tertawa ringan.
Aldri yang merupakan aktivis kampus saat kuliah dulu ini, semakin menambah data perbandingan antara ia beserta kawan-kawannya dahulu dengan mahasiswa sekarang. Ia menjelaskan bagaimana dahulu aktivis mahasiswa dipandang "special" di mata masyarakat. Mahasiswa adalah harapan masyarakat. Namun sekarang, sebagian besar masyarakat memandang sinis aktivis mahasiswa. Aksi demonstrasi yang sering merusak fasilitas umum dan mengganggu ketertiban menjadi salah satu faktornya. Di diri aktivis mahasiswa saat ini lebih kental aroma politis daripada sifat kritis. Tidak nampak apa yang diperjuangkan itu adalah untuk kepentingan masyarakat. Terakhir, ia menambahkan orientasi gerakan mahasiswa dahulu adalah gugatan ke struktur kekuasaan, namun sekarang orientasinya adalah pada pembentukan opini publik.
Diskusi berlangsung alot sampai memasuki tahap tanya jawab. Diantaranya menanyakan bagaimana cara membangkitkan gerakan mahasiswa saat ini dan pemateri menanggapi dengan santai: "Bisa saja, kalau mau", ucapnya. Jangan takut membagikan ide kepada orang lain dan sering berdiskusi adalah salah satu cara yang ia tawarkan. Lalu pertanyaan lainnya terlontar mengenai kampanye masuk kampus. Pemateri mengawali pandangannya dengan melontarkan pertanyaan kepada forum. "Kalian maunya UNP ini seperti apa?", ujarnya. Setiap kampus memiliki warna tersendiri yang diberikan oleh aktivis-aktivisnya. Jika ingin menjadikan kampus ini bersih dari unsur-unsur politik, mahasiswanya harus punya cara untuk mewujudkannya. Via
Komentar (0)