Rio juga menyampaikan, sebagai penikmat media sosial kita harus mengetahui cara untuk membedakan media yang kredibel.
"Kita harus mengetahui bagaimana cara membedakan media yang kredibel. Yang menjadi permasalahan di media sosial adalah konten yang negatif. Jadi konten negatif itu lebih banyak disukai, konten-konten yang berbau kontroversi yang sengaja dibuat untuk mendatangkan viewers yang tinggi," jelasnya.
Lebih lanjut, Rio menjelaskan bahwa,konten creator tidak ada orang yang mengawasi, berbeda dengan jurnalis yang diawasi oleh Dewan Pers. Sehingga menyebabkan, content creator harus bertanggung jawab terhadap konten yang mereka buat.
"Masalahnya, content creator tidak ada Dewan Pers nya, tidak ada orang yang mengawasi, menjadikan tanggung jawab orang content creatornya," jelasnya.
Tak ketinggalan, Prof. Dr. Ermanto, M.Hum selaku pembicara terakhir menuturkan, pers sekarang harus menjadi pers nasional yang bertanggung jawab untuk kepentingan nasional. Ia juga menyampaikan, jurnalisme warga berperan penting dalam hal menyampaikan informasi tapi dengan diberi edukasi karena warga memanfaatkan media sosial.
"Kita semestinya harus menjadi pers nasional dan bertanggung jawab untuk kepentingan nasional. Jurnalisme warga sangat berperan penting tetapi harus diberi edukasi dan pembinaan oleh Dewan Pers. Karena jurnalis warga memanfaatkan media sosial," tuturnya.
Terakhir, Ermanto menyebutkan bahwa ada dua jenis media, yaitu media massa dan media sosial. Kedua media ini memiliki perbedaan.
"Media masa memiliki informasi yang valid dan bisa dijadikan acuan tetapi pada media sosial kadang sulit dijadikan acuan. Di media sosial, data yang akurat menjadi acuan itu tidak ada. Sehingga informasi pada media sosial itu sulit menjadi acuan, tetapi wartawan sekarang sudah menjadikan media sosial sebagai acuan atau rujukan dengan syarat wartawan tersebut harus mengecek ke lapangan," tutupnya.
Komentar (0)