Tiap malam, mobil motor berseliweran di tempat ini. "Biasanya jam 8 malam ke atas lah," katanya. Banyak dari mereka lelaki paruh baya. Dapat cerita, mereka dibayar paling mahal 150.000 selama 10 menit. Walau begitu, Novi tak terganggu. Ia nyaman-nyaman saja. "Sudah terbiasa sih Dek,"katanya sambil terus mengupas bawang merah.
"Bisa temuin Kami sama mereka Mbak?"
"Wah, kalau jam segini mereka masih tidur, sore atau malam aja kesini Dek ,"katanya.
Setelah itu, kami menyusuri gang dua hingga gang lima. Rumah-rumah tersusun rapat. Berbaur antara wisma PSK dengan rumah tangga. Pintu dan tirai jendela tertutup. Tak tampak seorang pun di sekitar itu. Padahal matahari sudah naik. Waktu sudah menunjukkan 11.30. Namun sang penghuni rumah belum juga muncul.
Sekitar pukul 11.45, wanita ber-tanktop putih ketat melintas di depan kami. Memakai rok hanya menutupi setengah paha. Rambutnya pirang tergerai sepunggung, Ia berjalan tergesa-gesa. Kami mengejar, dia masuk wismanya. Tak keluar lagi. Kami menunggu di luar.
Kemudian, wanita bertubuh gempal keluar dari wisma. Ia berkulit hitam, mata besar, bibir tebal dan hidung jambu. Rambutnya pendek seleher. Ia hanya memakai tanktop garis-garis coklat kuning dan celana setengah paha. Bergerak sedikit, pusarnya kelihatan. Bibir tebal itu dipoles dengan pewarna merah muda dan kuku kaki diberi kutek merah tua.
Namanya Erna. Ia berusia 36 tahun. Ia asli Kalianda. Sudah 6 tahun ia ngontrak di sana. Namun sayang, ia tak mau bercerita banyak. "Saya kemari mencari uang, itu saja," katanya ketus. Ia pun masuk ke dalam dan tak keluar.
Kami menghampiri Jumiati, pemilik kontrakan Erna. Selain Erna, Yuni juga ngontrak di sana. "Mereka sama-sama PSK," kata Jumi berbisik. Cerita Jumi, Erna menjadi PSK karena frustasi ditinggal suami, begitupun Yuni. Erna sudah punya dua anak. "Mereka pernah dititip di sini," kata Jumi.
Bagi Jumi, mereka sah-sah saja tinggal disini selama tak beroperasi di rumahnya. Jumi juga melarang, laki-laki datang ke rumah. Memang, Jumi sering melihat beberapa laki-laki menjemput mereka. Tapi, Jumi tak mempermasalahkan itu. Baginya, anak-anak tak tinggal di sana. Jefri, anaknya berusia 18 tahun disekolahkan di Jawa. "anak-anak gak boleh di sini,gak baik," katanya sambil mengurut dada.
"Gimana rasanya berdampingan sama PSK Buk?,"
"Kami hidup berdampingan secara damai kok, karena udah terbiasa kali ya,"seloroh Jumi.
Sama dengan Kamarudin, warga dengan PSK hidup seperti biasanya. Saling menghormati dan membantu. "Ya….semuanya karena sudah biasa," kata Udin tersenyum ramah.
Laporan ini ditulis kru SKK Ganto (Santi Syafiana) dalam Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut "Persma Bernarasi di Bumi Lampung" yang digelar Lembaga Pers Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung, 4-9 Oktober 2010.
Komentar (3)