Ganto.co - Komunitas Ota Anak Gadih (OAG) Universitas Negeri Padang (UNP) mengadakan diskusi santai dengan tema "Ada Apa dengan +62: Mendung Bukan Hujan" di depan Gedung Rektorat UNP, Rabu (11/10).
Kegiatan yang merupakan agenda rutin komunitas OAG setiap minggu ini dipandu oleh Mita, selaku anggota komunitas OAG dan seorang aktivis dakwah kampus. Kegiatan ini juga menghadirkan Rabiah Rabbaniyah El-Rasymi atau yang kerap disapa Bani, seorang enterpreneur muda dan juga merupakan aktivis dakwah kampus sebagai pemateri.
Pada diskusi ini Bani menjelaskan apa yang menjadi penyebab cuaca belakangan ini terus mendung namun tidak kunjung turun hujan, dan terkait kualitas udara yang belakangan ini sangat buruk dan berdebu yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (kartula).
"Ternyata kartula ini dilakukan oleh korporat atau pengusaha-pengusaha dari luar negeri yang menguasai Indonesia seperti contohnya kasus di Kalimantan. Mereka melakukan hal tersebut untuk keuntungan mereka sendiri agar tidak banyak mengeluarkan biaya untuk mengosongkan lahan atau hutan untuk digunakan," jelasnya.
Bani juga menambahkan bahwa, kartula ini memberikan dampak yang besar untuk seluruh masyarakat.
"Terdampak akibat kartula ini bukan hanya satu oknum saja namun juga masyarakat umum, kesehatan mereka terganggu. Karena udara yang tidak bagus juga bisa mengakibatkan perkonomian menurun dengan adanya pembatasan dalam beraktivitas di luar ruangan," tambahnya.
Terakhir, Bani menegaskan bahwa, peran mahasiswa juga sangat dibutuhkan dalam membuat perubahan yang lebih baik untuk negeri ini.
"Setidaknya sebagai mahasiswa ada empat hal yang harus tertanam dalam diri kita, yaitu salah satunya mahasiswa sebagai agen dari perubahan. Seorang mahasiswa haruslah sadar akan isu atau permasalahan nasional yang terjadi di negeri ini, dan ikut mencari solusi dan melakukan perubahan," ujarnya.
Hafizah Rahmi, selaku pendiri dari komunitas OAG ini berharap agenda diskusi yang rutin diadakan setiap hari Rabu ini nantinya bisa membangkitkan rasa tanggung jawab dan simpati mahasiswa sebagai agen of change di lingkungan masyarakat.
"Harapannya, mungkin membangkitkan kesadaran diri mahasiswa sebagai agent of change yang merupakan sebuah peran yang harus diemban dipundak kita. Kita sebagai mahasiswa harus peka terhadap lingkungan dan harus bergerak untuk mengambil tindakan atas peristiwa yang sedang terjadi," jelasnya saat diwawancarai Ganto.
Komentar (0)