Ganto.co -Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar acara launching dan bedah buku dengan tajuk 'Melewati Batas: Kekerasan Ekstrem Belanda dalam Perang Kemerdekaan Indonesia, 1945-1949' dan 'Dunia Revolusi: Perspektif dan Dinamika Lokal pada Masa Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949' di Hospitality Center (UNP Hotel and Convention Center), Rabu (27/9).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan lembaga riset dari Belanda Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV), Non-Invasive Options in Dermal (NIOD), dan National Institute of Mental Health (NIMH).
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dr. Refnaldi, S.Pd., M.Litt. selaku Wakil Rektor I (WR I), Direktu KITLV Gert Oostindie selaku narasumber, serta Ireen Hoogenboom selaku Project Manager KITLV, NIOD, dan NIMH.
Dalam sambutannya, Refnaldi mengucapkan terima kasih kepada KITLV karena telah memilih UNP sebagai tempat pelaksanaan bedah buku ini, dan berharap semua orang bisa memberikan masukan dan pendapatnya terkait buku-buku ini.
"Ini merupakan kesempatan langka bagi kami karena buku yang dibedah merupakan buku yang berskala nasional. Ini kesempatan baik bagi mahasiswa, dosen dan civitas UNP, serta perguruan tinggi lainnya untuk memberikan masukan, kritik, serta saran," ucapnya.
Dr. Erniwati, M.Hum., selaku tim riset mengatakan bahwa, kegiatan ini merupakan bagian dari proyek Belanda dalam rangkaian riset tentang Revolusi Indonesia.
"Kegiatan ini adalah rangkaian dari hasil riset. Belanda bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), selanjutnya UGM menyeleksi untuk pemilihan peneliti, dan terpilihlah 10 orang dari Indonesia dan enam orang dari Belanda," ucapnya.
Erniwati juga mengatakan bahwa, kegiatan riset ini sudah dilakukan selama tiga tahun.
"Diskusi dan riset kami lakukan selama tiga tahun hingga terciptalah karya-karya ini. Kegiatan ini merupakan program Belanda dari hasil riset sebelumnya, lalu menemukan terjadi kekerasan pada tahun 1945-1949," ungkapnya.
Ia juga mengatakan bahwa, hasil riset ini berhasil menimbulkan perspektif lain dalam sejarah Indonesia periode 1945-1949.
"Hasil riset tersebut berhasil membuat pemerintah Belanda yang semula tidak mengakui kemerdekaan Indonesia, kemudian mengakuinya. Jadi, apa yang dihasilkan riset ini memberikan perspektif lain dalam sejarah Indonesia, khususnya periode 1945-1949," jelasnya.
Diakhiri sesi wawancara, Erniwati menyampaikan harapannya kepada generasi muda.
"Harapan saya, semoga mata dan fikiran kita lebih terbuka sehingga berminat untuk turut berkarya serta membuktikan bahwa bangsa ini tidak hanya merdeka 17 Agustus, namun butuh untuk dirawat serta dikembangkan agar dapat menjadi bangsa yang berguna," tutupnya.
Komentar (0)