Setengah legaran galanggang nan bapaneh rumah Eri Mefri, ketua Sanggar Nan Jombang Tanggal 3, perlahan dipadati penonton yang dari pukul tujuh sudah berseliweran menunggu mulainya Festifal Nan Jombang Tanggal 3, Rabu (3/4). Ada yang duduk di barisan depan, tengah dan paling belakang diantara susunan batu sungai yang tersusun apik. Kebanyakan yang memilih posisi duduk di depan adalah penonton berkamera yang siap membidik tiap gerakan berkesan di festival. Sembari menunggu, penonton menikmati teh hangat beserta hidangan ringan berupa raga-raga dengan wadah galuak tampuruang yang disajikan tuan rumah.
Festifal kali ini menghadirkan seni tradisi Minangkabau khas kota Padang, yaitu saluang jo dendang pauah. Seni tradisional yang mulai mendekati status langka ini dimainkan oleh Syamsuddin, Zamris, dan Pono, seniman tradisi dari Nagari Pauah Limo, Kecamatan Pauah, Padang. "Kesenian ini hampir punah, di Padang masih bersisa sekitar 5 orang yang terampil dendang dan saluang pauh ini," tutur Eri.
Pementasan ini diadakan tanggal tiga setiap bulannya. Acara yang bertujuan untuk membuka lebih luas ruang-ruang ekspresi kesenian, terutama seni tradisi Minangkabau dan juga mengakomodasi pemikiran masyarakat yang terus berkembang.
Eri mengatakan bahwa festival akan dilaksanakan dengan penampilan seni tradisi yang berbeda setiap bulannya. "Tiga hari setelah acara saluang ini, kami rapatkan lagi acara bulan depannya," ujar Eri ketika ditanyai acara yang akan diangkatkan bulan Mei depan.
Untuk peserta festival, diberitahukan melalui undangan. "Namun hanya acara pertama saja," ujarnya. Sedangkan pertujukan lanjutan akan diberitahukan melalui seluler atau media lainnya. Terlebih tanggal pelaksanaannya yang tetap, "Jadi tanpa undangan pun, rekan yang lain sudah tahu," imbuhnya. Festival kali ini dihadiri oleh seniman, wartawan, dosen Fakultas Sastra dan Budaya Indonesia Unand, serta mahasiswa Sastra Indonesia Unand juga ikut serta menikmati acara. Reni, seorang mahasiswa Sastra Indonesia Unand TM 2012 mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan rekomendasi dosen matakuliah sastra lisannya. "Makanya banyak yang datang," jelasnya sembari menunjuk pada rekan Sasindo Unand lainnya.
Lebih lanjut Eri menjelaskan festival ini berlangsung berkat kerjasama dengan Yusrizal KW, seniman Se-Sumbar, sastrawan Se-Sumbar dan bebarapa komunitas teater Sumbar. Yusrizal KW dalam sambutannya mengatakan bahwa perkembangan zaman membuat jarak tersendiri antara masyarakat dengan seni tradisinya. "Mari kita dukung seni tradisi, semoga kita menjadi bagian dari perkembangan peradaban," ujarnya. Novi
Komentar (0)